Tanggal 1 Juni nanti kita memperingati hari anak internasional nih, jika kita cermati sudah sepantasnya dunia menaruh perhatian lebih kepada anak-anak karena mereka adalah masa depan dunia. Tapi jika dilihat lebih dalam lagi, nasib anak-anak sekarang sangatlah memprihatinkan. Perdagangan anak dibawah umur, kekerasan terhadap anak, kesempatan mendapatkan pendidikan layak yang masih jauh dari harapan, pemerkosaan dan pelecehan seksual tehadap anak-anak kerap terjadi, tayangan televisi yang tidak mendidik, pemberdayaan anak sebagai pencari nafkah bagi orang dewasa dan lain sebagainya,.
Anak-anak adalah jiwa yang polos, mereka mudah dibentuk dan diarahkan, sebagaimana halnya kertas putih yang bersih dan rapi jika kertas itu kita bentuk dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut ataupun dengan menulis diatasnya kata-kata yang sejuk yang penuh cinta dan makna postif maka ia akan menjadi sebuah bentuk yang bernilai tinggi, sebaliknya jika kita coret-coret kertas itu dengan tinta secara kasar, penuh kata-kata kotor, kemudian kita robek-robek maka kertas itu menjadi tidak bernilai atau malah tidak akan dipandang sama sekali.
Yang paling dominan dalam membentuk karakter dan jiwa seorang anak adalah orang tuanya baru kemudian lingkungan sekitarnya. Lantas bagaimana jika lingkungan sekitarnya itu buruk?? Disinilah peran penting orang tua dalam memberikan filter-filter tentang mana yang baik dan buruk bagi sang anak, tentunya dengan pendidikan agama yang kuat dari orang tua si anak pastinya tidak akan dengan mudah terjerumus kedalam kehidupan yang menyesatkan.
Bagaimana kenyataan sebenarnya dilapangan saat ini?? Ternyata jauh dari harapan. Contohnya disekitar rumahku di Sumedang kebetulan banyak anak-anak usia 5 tahun s/d 10 tahun yang memang lagi “sesedeung na” kata orang Sunda mah.^___^. Jika hari minggu atau sore hari biasa mereka bermain dijalan kecil samping rumah entah itu main layangan (sekarang memang lagi musim), main sepak bola, main petak umpet dan sebagainya (maklum permainan anak-anak di kampung memang seperti itu). Biasanya tak jarang juga mereka adu mulut gara-gara masalah sepele seperti berebut layangan, saling ejek, dsb (makanya jika ada orang dewasa yang adu mulut dan saling ejek kemudian adu jotos karena tidak mampu meredam emosi mereka sama saja seperti anak usia 5 s/d 10 tahun). Namanya juga anak-anak jika mereka emosi tentu mereka akan saling ejek namun yang jadi perhatian disini adalah kata-kata yang mereka gunakan dalam mengejek teman mereka itu, sungguh tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang anak kecil ataupun manusia yang mengaku beradab.
Ya, kata-kata kasar dan kotor seperti….(yah anda mungkin tahu sendiri seperti apa)… keluar dari mulut-mulut mungil para calon penerus bangsa ini. Terlebih lagi jika kita larang mereka, mereka malah pada lari sambil terus melempar kata-kata kasar itu, atau bahkan melempar batu kerikil kearah musuhnya (mencontoh senior mereka yang di Makassar itu barangkali). Usut punya usut, ternyata orang tua sang anak memang suka berkata kasar didepan anak-anaknya. Terlebih lagi siaran televisi dan game digital juga semakin menambah buruk perangai sang anak, seperti kasus Smackdown beberapa waktu silam banyak anak yang kemudian meninggal karena dibanting temannya, atau kartun Jepang seperti Naruto dan One Piece yang memang dinegara asalnya bukanlah tontonan bagi anak-anak, melainkan tontonan bagi remaja dan dewasa. Begitu pula sinetron-sinetron televisi kita yang mengambil aktor dan aktris anak-anak tapi ada dipenuhi adegan pacaran, mistis, kekerasan dsb.
Lalu bagaimana dengan orang tua mereka, kebanyakan dari mereka diam saja atau bahkan malah tidak mau ambil pusing dengan apa yang anak-anak mereka tonton itu, yang penting anak-anak terhibur. Pemikiran yang salah ini tentunya mesti diperbaiki, oleh siapa?? Ya oleh kita, yang sudah dewasa sekaligus juga calon orang tua bagi anak-anak kita kelak. Apa kita akan diam saja melihat para generasi penerus yang masih kecil ini bermoral rusak, suka kekerasan, lebih mengandalkan otot daripada otak, atau bahkan tidak memiliki moral sama sekali(seperti para praja di IPDN)?? Engga mau dong!!
Sudah saatnya kita para pemuda mengulang kembali perjuangan para pemuda STOVIA 100 tahun yang lalu, sudah saatnya kita para pemuda benar-benar kembali membangkitkan bangsa ini bukan cuma sebagai pelaku “penyambut” hari kebangkitan bangsa saja, ketahuilah dunia telah menjadi saksi bisu kehebatan para kaum muda, ketahuilah bahwa dunia telah memperlihatkan bahwa kaum muda banyak memegang peranan penting dalam sejarah tatanan masyarakat dunia.
“SAVE OUR NEXT GENERATION”
Monday, May 26, 2008
Labels: Artikel Ilmiah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
salam.:):) this is nice page
Post a Comment