Pernahkah terbayang di benak kita, bagaimana bila sa'atnya
kematian tiba? Kematian adalah kesendirian. Kematian adalah nyanyian
sunyi. Bahkan kematian adalah kengerian yang tak pernah terbayangkan.
Bagaimana mungkin kita membayangkan kematian, kita tidak pernah merasakan?
Begitu banyak orang takut pada kematian, dikarenakan tak bisa
membayangkan apa yang bakal terjadi. Sebagian lagi takut kepada rasa
sakit akibat terlepasnya jiwa dari badan yang konon tak terperikan
rasanya. Sebagian lagi takut karena kematian bakal memisahkan ia dari
segala yang dimiliki dan dicintai selama hidup di dunia.
Bagi para pecinta dunia, kematian bermakna ketakutan kehilangan
segalanya. Seluruh harta benda yang dikumpulkan. Mobil-mobil mewah
yang menjadi hobi dan kesukaan. Rumah-rumah bagus tempat dia
menghabiskan seluruh hidupnya. Bisnis dan kekuasaan yang diperjuangkan
mati-matian karena memberikan kebanggaan status sosial. Serta
orang-orang dekat yang sangat dicintai atau mencintainya.
Mereka yang mencintai dunia tidak tahu, bahwa kematian justru awal
dari kehidupan. Kematian adalah awal dari segalanya, awal dari
terbukanya cakrawala. Adalah syahadat yang sesungguhnya, ketika ia
menyaksikan dan membuktikan bahwa segala informasi mengenai Allah dan
Rasul-rasul- Nya adalah benar semua. Dan ditampakkan hasil perbuatannya
ketika hidup didunia.
Kematian adalah harapan bagi orang-orang yang putus asa. Kematian
adalah kerinduan bagi pecinta kehidupan yang lebih baik. Kematian
adalah air segar dibalik fatamorgana dunia. Kematian adalah jalan
lapang menuju taman-taman surga yang membahagiakan. Kematian adalah
pintu-pintu gerbang yang terbuka lebar menyongsong datangnya tamu-tamu
Allah yang ingin bertemu dan kembali kepada-Nya.
Ketakutan dan kerinduan. Kekhawatiran dan harapan. Segala
kegelisahan berbaur, lebur menjadi satu dibenak manusia. Di detik-detik
terakhir hidupnya. Sa'at-sa'at ia meregang nyawa. Menghadapi malaikat
maut yang datang begitu tiba-tiba. Ia menunggu sa'at yang tepat untuk
melancarkan serangan telak, menghajar jantung kehidupannya.
Amal kebajikan dan kejahatan telah sampai pada batas akhir. Yang
tertinggal hanyalah gema panjang, sepanjang sejarah kemanusiaan.
Kemarin adalah kenangan. Hari ini adalah amalan. Hari esok adalah
harapan. Innalillahi wa innailaihi roji'un...... Segalanya adalah
milikNYA, dan segalanya bakal kembali kepada-Nya.
Kini, sa'atnya untuk merenung, bertanya kepada diri sendiri,
sudah siapkah kita untuk mati? Bukan…..bukan untuk mati, melainkan
untuk mengarungi hidup sesudah mati. Tahun dan bulan terus berlalu.
Hari, jam, menit dan detik, berdenyut menggiring waktu. Kematian
semakin dekat. Entah bulan depan. Entah minggu depan. Entah esok hari.
Entah sebentar lagi, tak ada yang tahu…….yang pasti, dia akan datang.
"YA ROBBI……BIMBINGLAH KAMI SELALU DI JALAN MU, HINDARKAN
KAMI DARI SEGALA YANG JAHAT, DAN BIMBING KAMI UNTUK
MEMAHAMI DAN MENGGENGGAM MAKNA KEMATIAN SEJATI" [lr]
Wednesday, November 05, 2008
Labels: Artikel Islami
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment