KISAH NABI HUD a.s

Posted by Jeunara at 10:48 AM

Wednesday, June 18, 2008

Selesailah kisah kaum Nabi Nuh dalam sejarah. Mayoritas di antara mereka yang mendustakan ajarannya telah dihancurkan oleh topan. Sedangkan minoritas di antara mereka dapat kembali memakmurkan bumi sebagai wujud dari sunatullah dan janji-Nya: Sedangkan janji Allah SWT kepada Nabi Nuh adalah:

"Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang takwa." (QS. al-Qashash: 83)

Dan janji Allah SWT juga kepada Nabi Nuh adalah:

"Difirmankan: 'Hai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada pula umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam hehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. " (QS. Hud: 48)

Berputarlah roda kehidupan dan datanglah janji Allah SWT. Setelah datangnya topan, tiada yang tersisa dari manusia di muka bumi kecuali orang-orang yang beriman. Tiada satu hati yang kafir pun berada di muka bumi dan setan mulai mengeluhkan pengangguran.

Berlalulah tahun demi tahun, lalu matilah para orang tua dan anak-anak, dan datanglah anak dari anak-anak. Manusia lupa akan wasiat Nabi Nuh dan mereka kembali menyembah berhala. Manusia menyimpang dari penyembahan yang semata-mata untuk Allah SWT. Akhirnya, tipuan kuno berulang kembali. Para cucu kaum Nabi Nuh berkata: "Kita tidak ingin melupakan kakek kita yang Allah SWT selamatkan mereka dari topan."

Oleh karena itu, mereka membuat patung-patung orang-orang yang selamat itu yang dapat mengingatkan mereka dengannya. Dan pengagungan ini semakin berkembang generasi demi generasi, namun akhimya penghormatan itu berubah menjadi penghambaan. Patung-patung itu berubah—dengan bisikan setan—menjadi tuhan selain Allah SWT. Dan bumi kembali mengeluhkan kegelapan. Lalu Allah SWT rnengutus junjungan kita Nabi Hud di tengah-tengah kaumnya.

Al-Qur'an menyingkap ceritanya setelah diutusnya Nabi Hud untuk membawa agama kepada manusia. Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama 'Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf. la adalah padang pasir yang dipenuhi dengan gunung-gunung pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempuyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum 'Ad terkenal dengan kekuatan fisik di saat itu, dan mereka juga memiliki tubuh yang amat tinggi dan tegak sampai-sampai mereka mengatakan seperti yang dikutip oleh Al-Qur'an:

"Mereka berkata: 'Siapakah yang lebih kuat daripada kami.'" (QS. Fushilat: 15)

Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka. Meskipun mereka memiliki kebesaran tubuh, namun mereka memiliki akal yang gelap. Mereka menyembah berhala dan membelanya bahkan mereka siap berperang atas namanya. Mereka malah menuduh nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahwa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahwa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya, mereka tidak melihat selain kecongkakan mereka. Nabi Hud berkata kepada mereka:

"Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 50)

Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali. Kaumnya bertanya kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?" Nabi Hud memberitahu mereka bahwa ia hanya mengharapkan imbalan dari Allah SWT. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah SWT terhadap mereka. Bagaimana Dia menjadikan mereka sebagai khalifah setelah Nabi Nuh, bagaimana Dia memberi mereka kekuatan fisik, bagaimana Dia menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Dia mengirim hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.

Kaum Hud membuat kerusakan dan mengira bahwa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya?" Nabi Hud menjawab: "Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan." Kaum Nabi Hud berkata: "Apakah engkau akan mengatakan wahai Hud bahwa setelah kami mad dan menjadi tanah yang beterbangan di udara, kita akan kembali hidup?" Nabi Hud menjawab: "Kalian akan kembali pada hari kiamat dan Allah SWT akan bertanya kepada masing-masing dari kalian tentang apa yang kalian lakukan."

Setelah mendengar jawaban itu, meledaklah tertawa dari mereka. Alangkah anehnya pengakuan Hud, demikianlah orang-orang kafir berbisik di antara mereka. Manusia akan mati dan ketika mati jasadnya akan rusak dan ketika jasadnya rusak ia akan menjadi tanah kemudian akan dibawa oleh udara dan tanah itu akan beter­bangan, lalu bagaimana semua ini akan kembali ke asalnya. "Kemu­dian apa pengertian adanya hari kiamat? Mengapa orang-orang yang mati akan bangkit dari kematiannya?" Hud menerima pertanyaan-pertanyaan ini dengan kesabaran yang mulia. Kemudian ia mulai menerangkan pada kaumnya keadaan hari kiamat. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa kepercayaan manusia kepada hari akhir adalah satu hal yang penting yang berhubungan dengan keadilan Allah SWT, sebagaimana ia juga sesuatu yang penting yang juga berhubungan dengan kehidupan manusia.

Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi berkenaan dengan hari kiamat. Sesungguhnya hikmah sang Pencipta tidak menjadi sempurna dengan sekadar memulai penciptaan kemudian berakhirnya kehidupan para makhluk di muka bumi ini, lalu setelah itu tidak ada hal yang lain. Ini adalah masa tenggang yang pertama dari ujian. Dan ujian tidak selesai dengan hanya menyerahkan lembar jawaban. Harus juga disertai dengan koreksi terhadap lembar jawaban itu, memberi nilai, dan menjelaskan siapa yang berhasil dan siapa yang gagal.

Manusia selama hidup di dunia tidak hanya mempunyai satu tindakan; ada yang berbuat kelaliman, ada yang membunuh, dan ada yang melampaui batas. Seringkali kita melihat orang-orang lalim pergi dengan bebas tanpa menjalani hukuman. Cukup banyak orang-orang yang jahat namun mereka mendapatkan fasilitas yang mewah dan mendapatkan penghormatan serta kekuasaan. Ke mana orang-orang yang teraniaya akan mengadu dan kepada siapa orang-orang yang menderita akan mengeluh?

Logika keadilan menuntut adanya hari kiamat. Sesungguhnya kebaikan tidak selalu menang dalam kehidupan, bahkan terkadang pasukan kejahatan berhasil membunuh dan memperdaya para pejuang kebenaran. Lalu, apakah kejahatan ini berlalu begitu saja tanpa mendapatkan balasan? Sungguh suatu kelaliman besar terhampar seandainya kita menganggap bahwa hari kiamat tidak pernah terjadi. Allah SWT telah mengharamkan kelaliman atas diri-Nya sendiri, dan Dia pun mengharamkannya terjadi di antara hamba-hamba-Nya., maka adanya hari kiamat, hari perhitungan, hari pembalasan adalah sebagai bukti kesempurnaan dari keadilan Allah SWT. Sebab hari kiamat adalah hari di mana semua persoalan akan disingkap kembali di depan sang Pencipta dan akan di tinjau kembali, dan Allah SWT akan memutuskan hukum-Nya di dalam-nya. Inilah kepentingan pertama tentang hari kiamat yang berhubungan langsung dengan keadilan Allah SWT.

Ada kepentingan lain berkenaan dengan hari kiamat, yang berhubungan dengan perilaku manusia sendiri. Bahwa keyakinan dengan adanya hari akhir, mempercayai hari kebangkitan, perhitungan amal, penerimaan pahala dan siksa, dan kemudian masuk surga atau neraka adalah perkara-perkara yang langsung berkenaan dengan perilaku manusia, di mana konsentrasi manusia dan had mereka akan tertuju dengan alam lain setelah alam ini. Oleh karena itu, mereka tidak akan terbelenggu oleh kenikmatan dunia, kerakusan kepadanya, dan egoisme untuk menguasinya. Mereka tidak perlu gelisah saat mereka tidak berhasil melihat balasan usaha mereka dalam umur mereka yang pendek dan terbatas. Dengan demikian, manusia semakin meninggi dari tanah yang menjadi asal penciptaannya ke roh yang ditiupkan oleh Tuhannya.

Barangkali persimpangan jalan antara tunduk terhadap imajinasi dunia, nilai-nilainya, dan pertimbangan-pertimbangannya dan ketergantungan dengan nilai-nilai Allah SWT yang tinggi dapat terwujud dengan adanya keimanan terhadap hari kiamat. Nabi Hud telah membicarakan semua ini dan mereka telah mendengarkannya namun mereka mendustakannya. Allah SWT menceritakan sikap kaum itu terhadap hari kiamat:

"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan pertemuan dengan hari kiamat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia: 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia, makan dari apa yang kamu, makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian itu, kamu benar-benar menjadi orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?, jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepadamu itu, kehidupan tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. " (QS. al-Mu`minun: 33-37)

Demikianlah kaum Nabi Hud mendustakan nabinya. Mereka berkata kepadanya: "Tidak mungkin, tidak mungkin." Mereka keheranan ketika mendengar bahwa Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang ada dalam kuburan. Mereka bingung ketika dibe-ritahu bahwa Allah SWT akan mengembalikan penciptaan manusia setelah ia berubah menjadi tanah, meskipun Dia telah menciptakannya sebelumnya juga dari tanah. Seharusnya para pendusta hari kebangkitan itu merasa bahwa mengembalikan penciptaan manusia dari tanah dan tulang lebih mudah dari penciptaannya pertama kali. Bukankah Allah SWT telah menciptakan semua makhluk, maka kesulitan apa yang ditemui-Nya dalam mengembalikannya. Kesulit­an itu disesuaikan dengan tolok ukur manusia yang tersembunyi dalam ciptaan., maka tolok ukur manusia tersebut tidak dapat diterapkan kepada Allah SWT. Karena Dia tidak mengenal kesulitan atau kemudahan. Ketika Dia ingin membuat sesuatu, maka Dia hanya sekadar mengeluarkan perintah:

"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepa­danya: "Jadilah."Lalu jadilah ia." (QS. al-Baqarah: 117)

Kita juga memperhatikan firman-Nya:

"Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya." (QS. al-Mu^minun: 33)

Al-Mala' ialah para pembesar (ar-Ruasa'). Mereka dinamakan al-Mala' karena mereka suka berbicara dan mereka mempunyai kepentingan dalam kesinambungan situasi yang tidak sehat. Kita akan menyaksikan mereka dalam setiap kisah para nabi. Kita akan melihat para pembesar kaum, orang-orang kaya di antara mereka, dan orang-orang elit di antara mereka yang menentang para nabi. Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman-Nya:

"Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia. " (QS. al-Mukminun: 33)

Karena pengaruh kekayaan dan kemewahan hidup, lahirlah keinginan untuk meneruskan kepentingan-kepentingan khusus, dan dari pengaruh kekayaan dan kekuasaan, muncullah sikap sombong. Para pembesar itu menoleh kepada kaumnya sambil bertanya-tanya: "Tidakkah nabi ini manusia biasa seperti kita, ia memakan dari apa yang kita, makan, dan meminum dari apa yang kita minum? Bahkan barangkali karena kemiskinannya, ia sedikit, makan dari apa yang kita, makan dan ia minum, menggunakan gelas-gelas yang kotor sementara kita minum dari gelas-gelas yang terbuat dari emas dan perak., maka bagaimana ia mengaku berada dalam kebenaran dan kita dalam kebatilan? Ini adalah manusia biasa, maka bagaimana kita menaati manusia biasa seperti kita? Kemudian, mengapa Allah SWT memilih manusia di antara kita untuk mendapatkan wahyu-Nya?"

Para pembesar kaum Nabi Hud berkata: "Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?" Nabi Hud balik bertanya: "Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh karenanya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka." Para pembesar kaum berkata: "Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?" Nabi Hud menjawab: "Allah SWT."

Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: "Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami." Nabi Hud memberitahu mereka, bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mere­ka bahwa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.

Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang idiot dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: "Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan karena kemarahannya engkau menjadi gila." Allah SWT menceritakan apa yang mereka katakan dalam firman-Nya:

"Kaum 'Ad berkata: 'Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. " (QS. Hud: 53-54)

Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada diri mereka, sampai pada batas bahwa mereka menganggap, bahwa Nabi Hud telah mengigau karena salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila. Nabi Hud tidak membiarkan anggapan mereka bahwa ia gila dan mengigau, naniun ia tidak bersikap emosi tetapi ia menunjukkan sikap tegas ketika mereka mengatakan: "Dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. "

Setelah tantangan ini tiada lain bagi Nabi Hud kecuali memberikan tantangan yang sama. Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah SWT. Nabi Hud hanya memberikan peringatan dan ancaman terhadap orang-orang yang mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata:

"Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah karnu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. " (QS. Hud: 54-57)

Manusia akan merasa keheranan terhadap perlawanan kepada kebenaran ini. Seorang lelaki menghadapi kaum yang kasar dan keras kepala serta bodoh. Mereka menganggap bahwa berhala-berhala dari batu dapat memberikan gangguan. Manusia sendiri rnampu menentang para tiran dan melumpuhkan keyakinan mereka, serta berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. Bahkan ia siap menentang mereka dan menghadapi segala bentuk, makar mereka. Ia pun siap berperang dengan mereka dan bertawakal kepada Allah SWT. Allah-lah yang Maha Kuat dan Maha Benar. Dia-lah yang menguasai setiap makhluk di muka bumi, baik berupa binatang, manusia, maupun makhluk lain. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah SWT.

Dengan keimanan kepada Allah SWT dan dengan kepercayaan pada janji-Nya serta merasa tenang dengan pertolongan-Nya, Nabi Hud menyeru orang-orang kaflr dari kaumnya. Nabi Hud melakukan yang demikian itu meskipun ia sendirian dan merasakan kelemahan karena ia mendapatkan keamanan yang hakiki dari Allah SWT. Dalam pembicaraannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahwa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demi­kian ini berarti bahwa mereka sedang menunggu azab. Demikianlah Nabi Hud menjelaskan kepada mereka, bahwa ia berlepas diri dari mereka dan dari tuhan mereka. la bertawakal kepada Allah SWT yang menciptakannya.

Ia mengetahui bahwa siksa akan turun di antara para pengikutnya yang menentang. Beginilah hukum kehidupan di mana Allah SWT menyiksa orang-orang kafir meskipun mereka sangat kuat atau sangat kaya. Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari menyengat sangat kuat hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.

Kaum Nabi Hud segera menuju kepadanya dan bertanya: "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?" Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian." Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin meningkat dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah tanaman-tanaman.

Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah mereka sambil berkata: "Hari ini kita akan dituruni hujan." Tiba-tiba udara berubah yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup malam demi malam, dan hari demi hari. Setiap saat rasa dingin bertambah.

Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghan­curkan dan membunuh apa saja yang di depannya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Tuhannya.

Allah SWT berfirman "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. al-Ahqaf: 24-25) "Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). " (QS. al-Haqqah: 7)

Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud dan orang-orang yang beriman kepadanya selamat sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.

KISAH NABI SALEH a.s

Posted by Jeunara at 10:48 AM

Berlalulah hari demi hari. Lahirlah sebagian pria dan matilah sebagian yang lain. Setelah kaum 'Ad, datanglah kaum Tsamud. Lagi-lagi azab berulang kepada kaum Tsamud dalam bentuk yang lain. Kaum Tsamud juga menyembah berhala kemudian Allah SWT mengutus Nabi Saleh kepada mereka. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:

"Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada Tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 61)

Kalimat yang sama yang disampaikan oleh setiap nabi, dan kalimat tersebut tidak pernah berubah sebagaimana kebenaran tidak pernah berubah. Para pembesar kaum Nabi Saleh terkejut dengan apa yang dikatakannya. Beliau menyatakan bahwa tuhan mereka tidak memiliki nilai yang berarti. Beliau melarang mereka untuk menyembahnya dan memerintahkan mereka hanya menyembah Allah SWT.

Dakwah Nabi Saleh cukup menggoncangkan masyarakat. Nabi Saleh terkenal dengan kejujuran dan kebaikan. Kaumnya sangat menghormatinya sebelum Allah SWT mengutusnya dan memberikan wahyu padanya untuk berdakwah kepada mereka. Kaum Nabi Saleh berkata:

"Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesung­guhnya kami betul-betul dalam keraguan yang mengelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami. " (QS. Hud: 62)

Renungkanlah bagaimana pandangan orang-orang kafir dari kaum Nabi Saleh: "Sesungguhnya engkau sangat kami harapkan karena kaluasan ilmumu, kematangan akalmu, kejujuranmu dan kebaikanmu. Kemudian hilanglah harapan kami terhadapmu. Apakah engkau akan melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh kakek-kakek kami. Alangkah celakanya! Kami tidak berharap engkau mencela tuhan-tuhan kami yang kami mendapati orang tua-orang tua kami menyembahnya."

Demikianlah kaum Nabi Saleh merasa bingung di hadapan kebenaran dan mereka heran terhadap saudara mereka Saleh yang mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki alasan dan pemikiran yang benar. Mereka hanya beralasan bahwa kakek-kakek mereka menyembah tuhan-tuhan ini. Demikianlah taklid yang menyebabkan manusia ter-jerumus dalam kesesatan. Dan Nabi datang untuk menghilangkan taklid buta ini. Akidah tauhid disebarkan sebagai dakwah untuk membebaskan pikiran dari segala belenggu, yaitu suatu dakwah yang membebaskan akal manusia dari belenggu taklid, khurafat orang-orang dulu, dan khayalan tradisi yang mapan. Inilah dakwah tauhid yang menyuarakan kebebasan akal dan segala bentuk kebebasan lainnya.

Dakwah tersebut tidak akan ditentang kecuali oleh orang-orang yang akalnya terpasung oleh pemikiran orang-orang dulu dan khayalan orang-orang tua. Meskipun dakwah Nabi Saleh disampaikan dengan penuh ketulusan, namun kaumnya tidak mempercayainya. Mereka justru meragukan dakwahnya. Mereka mengira bahwa Nabi Saleh tersihir. Mereka meminta kepadanya agar ia mendatangkan mukjizat ynag membuktikan bahwa ia memang utusan Allah SWT. Allah SWT berkehendak untuk mengabulkan permintaan mereka. Kaum Tsamud mengukir rumah-rumah besar dari gunung. Mereka menggunakan batu-batu besar untuk membangun. Mereka adalah orang-orang yang kuat yang Allah SWT membuka pintu rezeki bagi mereka dari segala hal. Mereka datang setelah kaum 'Ad lalu mereka tinggal di bumi dan memakmurkannya. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya ketika mereka meminta mukjizat kepadanya:

"Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat." (QS. Hud: 64)

Yang dimaksud ayat dalam surah tersebut adalah mukjizat. Diriwayatkan bahwa unta itu merupakan mukjizat karena batu gunung pada suatu hari terpecah dan keluar darinya unta, dan keluar di belakangnya anaknya yang kecil. la lahir melalui cara yang tidak umum dalam proses kelahiran. Diriwayatkan juga bahwa ia merupakan mukjizat karena ia minum air yang terdapat di sumur-sumur pada suatu hari lalu binatang-binatang yang lain tidak berani mendekati air itu pada hari tersebut. Ada riwayat lain mengatakan bahwa ia merupakan mukjizat karena ia mengeluarkan susu yang mencukupi untuk dipakai minum oleh seluruh manusia di hari di mana ia minum seluruh air sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa darinya. Unta ini merupakan mukjizat di mana Allah SWT menyifatinya dengan sebutan: "naqatullah" (unta Allah). Itu berarti bahwa unta tersebut bukan unta biasa, namun ia merupakkan mukjizat dari Allah SWT. Allah SWT menurunkan perintah kepada Nabi Saleh agar beliau melarang kaumnya untuk mengganggunya atau membunuhnya. Beliau memerintahkan mereka untuk membiarkannya, makan di bumi Allah SWT dan tidak menyakitinya. Beliau mengingatkan mereka bahwa ketika mereka mencoba untuk mengganggunya, maka mereka akan mendapatkan siksaan dalam waktu dekat.

Mula-mula kaum Tsamud sangat terheran-heran ketika melihat unta lahir dari batu-batuan gunung. Ia adalah unta yang diberkati di mana susunya cukup untuk ribuan laki-laki, wanita, dan anak-anak kecil. Jika unta itu tidur di suatu tempat, maka binatang-binatang lain akan menyingkir darinya. Jelas sekali ia bukan unta biasa, namun ia merupakan tanda-tanda kebesaran dari Allah SWT. Unta itu hidup di tengah-tengah kaum Nabi Saleh. Berimanlah orang-orang yang beriman di antara mereka dan sebagian besar mereka tetap berada dalam penentangan dan kekafiran. Kebencian terhadap Nabi Saleh berubah menjadi kebencian kepada unta yang diberkati itu. Mulailah mereka membikin persekongkolan untuk melawan unta itu. Orang-orang kafir sangat membenci mukjizat yang agung ini dan mereka membuat rencana jahat untuk melenyapkannya. Sebagaimana biasanya, para tokoh-tokoh kaumnya berkumpul untuk membuat, makar. Allah SWT berfirman:

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata: 'Hat kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah;, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: 'Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya ?' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Saleh diutus untuk menyampaikannya.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu." (QS. al-AVaf: 73-76)

Nabi Saleh menyeru kaumnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah SWT dan mengingatkan mereka bahwa Allah SWT telah mengeluarkan mukjizat bagi mereka, yaitu unta. Mukjizat itu sebagai bukti akan kebenaran dakwahnya. Beliau memohon kepada mereka agar mereka membiarkan unta itu memakan dari hasil bumi, dan setiap bumi adalah bumi Allah SWT. Beliau juga mengingatkan mereka agar jangan sampai mengganggunya karena yang demikian itu dikhawatirkan akan mendatangkan azab bagi mereka. Bahkan beliau mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah SWT yang turun kepada mereka: "Bagaimana Dia menjadikan mereka penguasa-penguasa yang datang setelah kaum 'Ad, bagaimana Dia memberi mereka istana dan gunung-gunung yang terukir serta berbagai kenikmatan dan kekuatan."

Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saleh namun kaumnya justru menjawabnya dengan jawaban yang aneh. Mereka tidak menghiraukan nasihat Nabi mereka. Mereka menemui orang-orang yang beriman kepada Nabi Saleh. Mereka bertanya dengan pertanyaan yang tujuan untuk merendahkan dan mengejek: "Apakah kalian mengetahui bahwa Saleh seseorang yang diutus dari Tuhan­nya?" Pertanyaan ini tidak pantas dikemukakan setelah mereka melihat mukjizat unta. Alhasil, mereka merendahkan pengikut Nabi Saleh dan mengejeknya.

Sekelompok kecil yang beriman kepada Nabi Saleh berkata: "Sesungguhnya kami percaya dengan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh." Perhatikanlah jawaban orang-orang mukmin. Jawaban terse­but sangat bertentangan dengan jawaban para pembesar dari kaum Nabi Saleh. Para pembesar itu justru meragukan kenabian Saleh sedangkan orang-orang mukmin itu menegaskan kepercayaan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh.

Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Saleh tidak berhubungan dengan unta itu, namun berhubungan dengan dakwahnya dan ajarannya. Mereka mengatakan: "Kami mengimani apa yang dibawa oleh Nabi Saleh," dan mereka tidak mengatakan: "Kami beriman kepada untanya." Mereka tidak mengatakan bahwa unta itu yang menetapkan kenabian Saleh. Orang-orang mukmin lebih memper­hatikan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh, bukan memperhatikan mukjizat yang luar biasa itu. Melalui dialog tersebut kita dapat melihat sikap orang-orang kafir di mana mereka justru merasa mulia dengan penentangan terhadap kebenaran: "Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu. "

Demikianlah penghinaan mereka, kesombongan mereka, dan kemarahan mereka. Rasa-rasanya sia-sia untuk mencari dalil yang dapat memuaskan orang-orang kafir saat berdialog dengan mereka. Mereka selalu menolak kebenaran, padahal mereka orang-orang yang merdeka dalam memilih kebenaran itu.

Malam mulai menyelimuti kota Tsamud. Gunung-gunung yang kokoh menjulang dan melindungi rumah-rumah yang terukir di dalamnya. Dinyalakanlah lampu-lampu dalam istana yang terukir di gunung itu. Gelas-gelas minuman diputarkan di antara mereka. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh kaum yang tidak hadir dipertemuan penting itu. Dimulailah pertemuan dan terjadilah dia­log. Salah seorang kaflr berkata:

"Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar dalam keadaan sesat dan gila. " (QS. al-Qamar: 24)

Sementara yang lain menjawab:

"Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. " (OS. al-Oamar: 25)

(QS. al-Qamar: 25)

Gelas-gelas minuman kembali diputar di antara mereka, dan pembicaraan beralih dari Saleh ke unta Allah SWT. Salah seorang kafir berkata: "Jika datang musim panas, maka unta itu mendatangi lembah yang dingin sehingga binatang-binatang ternak yang lain lari darinya dan kepanasan." Seorang kafir lagi berkata: "Jika datang musim dingin unta itu mencari tempat penghangat, lalu ia istirahat di situ sehingga binatang-binatang ternak kita lari darinya dan menuju tempat yang dingin sehingga terancam kematian."

Gelas-gelas minuman kembali diputar dan bergoyang di tangan orang-orang yang meminum. Salah seorang yang duduk memerintahkan agar perempuan yang menyanyi berhenti dari nyanyiannya karena ia sedang berpikir. Kemudian kesunyian menghantui segala penjuru. Orang itu mulai berpikir sambil meminum dua gelas minuman keras, dan dengan suara pelan ia berkata: "Hanya ada satu cara." Orang-orang yang duduk di sekitarnya bertanya: "Bagaimana jalan keluarnya?" Tokoh mereka berkata: "Kita harus melenyapkan Saleh dari jalan kita. Yang saya maksud adalah untanya. Kita harus membunuh untanya dan setelah itu kita akan membunuh Saleh." Demikanlah cara yang dilakukan orang-orang yang kafir sepanjang sejarah. Demikianlah senjata yang digunakan oleh mereka dalam menghadapi kebenaran. Mereka tidak menggunakan akal sehat atau adu argumentasi, tapi mereka justru menggunakan kekuatan fisik. Bagi mereka, ini adalah cara yang paling aman. Pembunuhan akan menyelesaikan masalah. Namun salah seorang di antara mereka berkata: "Bukankah Saleh mengingatkan kita akan azab yang keras jika kita sampai menyakiti unta itu." Namun, orang-orang yang duduk di majelis itu segera memadamkan suara orang itu dengan dua gelas arak.

Kemudian percakapan dimulai tentang Saleh: "Berapakali kita putus asa dan dibuat kecewa olehnya. Sebaik-baik jalan adalah membunuhnya. Mula-mula kita membunuh untanya setelah itu kita akan menghabisi Saleh." "Namun siapa gerangan yang berani membunuhnya?" Pertanyaan itu menciptakan keheningan di antara mereka. Setelah beberapa saat, salah seorang mereka mengangkat suara: "Saya mengenal seseorang yang dapat membunuh­nya." Lalu nama demi nama berputar di antara mereka sehingga mereka menyebut seorang penjahat yang selalu membikin kerusakan di muka bumi dan ia suka mabuk-mabukan. Ia mempunyai kelompok penjahat di kota.

"Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakhan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan." (QS. an-Naml: 48)

Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat kota yang terkenal. Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan. Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya yang kecil di dadanya. Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di depannya.

"Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya." (QS. al-Qamar: 29)

Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah anaknya dalam keadaan takut. Akhiranya, darah unta itu terkucur dan anaknya pun terbunuh. Nabi Saleh mengetahui apa yang terjadi, lalu beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya. Beliau berkata kepada mereka: "Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian jangan mengganggu unta itu." Mereka menjawab: "Kami memang telah membunuhnya, maka datangkanlah siksaan kepada kami jika engkau mampu. Bukankah engkau berkata bahwa engkau termasuk utusan Tuhan." Nabi Saleh berkata kepada kaumnya:

"Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." (QS. Hud: 65)

Setelah itu, Nabi Saleh meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji Allah SWT untuk menghancurkan mereka setelah tiga hari. Berlalulah tiga hari siksaan atas orang-orang kafir dan mereka menunggu-nunggu azab yang datang. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan yang keras di mana teriakan itu menghancurkan gunung dan membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi berguncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya. Itu adalah satu teriakan saja yang membuat kaum Nabi Saleh hancur berantakan. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta bertina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. " (QS. al-Qamar: 27-31)

Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan orang-orang yang beriman bersama Nabi Saleh, mereka telah meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.

disini ku...

Posted by Jeunara at 10:46 AM

merindu akan kehadiranMu
ntah apa yg kan terjadi
jemari ini menari, seakan menemukan irama baru
yg tlah menggerakkannya tuk menuliskan hal ini

oh..Tuhanku
rencana apalagi yg tlah
Kau ciptakan untukku
berada dalam bimbang
yg tak menentu

biarkan hati ini berbicara
tentang kita,
tentang alam,
tentang smuanya...

ku masih disini
berharap dapat tersentuh
oleh lembutnya kasihMu

jika ku dengarkan syair lagu itu
yg dapat ku rasakan
hanyalah kerinduan
akan belaianMu

biarkan ku merasakannya...
karna hati ini
tlah lama beku

Seperti Yang Dulu

Posted by Jeunara at 10:45 AM

Tiada guna kau kembali
Mengisi ruang hati ini
Semuanya telah berlalu
Bersama lukaku

Tiada guna kau berjanji
Untuk setia menemani
Hatiku yang tlah terluka
Karna dustamu

Semuanya telah berakhir
Antara hatiku dan hatimu
Takkan ada cinta
Seperti yang dulu

Semuanya telah berakhir
Antara dirimu dan diriku
Takkan ada rindu
Seperti yang dulu

tell me....

Posted by Jeunara at 10:44 AM

Ceritakanlah padaku..
kemana angin telah membawamu atau pagi telah menjemputmu atau malam telah mengantarmu....
ceritakanlah tentang cinta, apakah ia begitu mulia...
ataukah lusuh tak tersentuh....

ceritakanlah tentang dendam yang dulu kau puja...
masih adakah? ataukah ia telah hilang seperti matahari dikala senja....
Dongengkanlah padaku, apa yang telah Dunia perbuat padamu...
dengan tutur katamu sendiri, aku kan coba mengerti...

duduklah di hadapanku.....
lalu akan kita habiskan waktu ....
tak usah peduli detak jantungku yang sudah tak teratur ini...
tak usah pedulikan aku,...
aku cukup senang mendengar ceritamu...
apa yang aku lewatkan ketika aku tidak bersamamu....
duduklah dihadapanku..... kawan

Coba Dengarkan Cinta

Posted by Jeunara at 10:43 AM

Manusia memang makhluk rumit. Dan suka aneh sendiri. Hal-hal yang pingin kita omongin, atau yang harus kita bilang, justru malah nggak pernah kita ungkap. Parahnya lagi, kita terbiasa pake simbol-simbol atau kata-kata lain buat nunjukin arti sebenernya. Walhasil, seringnya maksud kita
Itu jadi nggak terkomunikasikan dan bikin orang lain ngerasa bete, nggak disayang, nggak dihargai.

Iya sih, ada saat-saat kita ngerasa nggak nyaman mengekspresikan cinta yang kita rasa. Karena takut mempermalukan orang lain, atau diri kita sendiri, kita ragu buat bilang, "I love you". Jadinya, kita menyampaikan
perasaan itu lewat kata-kata yang lain; "jaga diri baik-baik", "belajar yang bener", "hati-hati di jalan", "jangan ngebut", "jangan lupa makan".

Tapi,sebenernya, itu cuma opsi-opsi lain dari perkataan yang
sesungguhnya;
"saya sayang kamu", "saya peduli sama kamu", "kamu sangat berarti buat saya", "saya nggak mau kamu terluka".

So, nggak ada salahnya kita coba MENDENGARKAN CINTA lewat kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain. Ungkapan eksplisit itu penting, tapi bagaimana kita mengungkapkannya bisa jadi jauh lebih penting. Setiap
pelukan bermakna cinta meski kata-kata yang keluar sangat berbeda. Setiap perhatian yang diberikan orang lain menyimpan cinta walau bentuknya kaku, atau mungkin kasar. Yang pasti, kita harus mencari dan mendengar cinta yang
ada di baliknya.

Seorang ibu bisa ngomelin anaknya karena nilai rapot atau kamar yang berantakan. Si anak mungkin hanya mendengar omelannya. Tapi kalo dia bener-bener MENDENGAR, dia bakal mendapatkan cinta di sana. Kepedulian dan cinta ibunya muncul dalam bentuk omelan. Tapi gimana pun juga,
itu adalah cinta. Seorang gadis pulang larut malam, dan akhirnya dapet kuliah gratis dari bokapnya. Gadis itu cuma nangkep kemarahan sang bokap.

Tapi kalo dia mencoba untuk MENDENGARKAN CINTA, dia bakal menemukannya. "Kamu gimana sih, Papa jadi khawatir sama kamu," kata bokapnya. Tau nggak, itu
Sama aja dengan "Papa sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat berarti buat Papa" yang sayangnya, nggak tersampaikan dengan lisan.

Kita mengungkapkan cinta dalam banyak cara--hadiah ulang tahun, pesan-pesan kecil, dengan senyuman, dengan air mata. Cinta nggak hanya ada dalam kata-kata, tapi juga dalam diam. Dan seringkali kita menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang nggak mau mendengar cinta yang kita sampaikan.

Masalah dalam "mendengarkan cinta" adalah kesulitan dan
keterbatasan kita untuk mengerti bahasa cinta yang dipakai orang lain. Yang kerap terjadi, kita jarang mendengarkan orang lain. Kita mendengar kata-kata, tapi kita nggak mempertimbangkan ekspresi atau tindakan-tindakan yang
mengiringi kata-kata itu. Sering juga kita cuma bisa mendengar hal-hal negatif, penolakan, kesalahpahaman dan mengabaikan cinta yang menjadi dasarnya.

Dengerin deh, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalo kita bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal temui bahwa kita sebenarnya memang dicintai. Mendengarkan cinta bisa membuat kita sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.


Cinta adalah anugerah.

Membuat kita tertawa.
Membuat kita bernyanyi.
Membuat kita sedih.
Membuat kita menangis.

Membuat kita bertanya "kenapa?"
Membuat kita menerima.
Membuat kita memberi.
Dan yang paling penting, membuat kita hidup.


Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting; kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Sendiri itu perlu, lho.
Dan itu jangan sampe membuat kita jadi kesepian. Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang.

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang
Kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita.

Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.
Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena
mereka udah berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima, atau dibalas,itulah saat hidup menjadi penuh makna.

Matematika ILahi

Posted by Jeunara at 10:41 AM

Syaitan ciptakan ilah lain bagimu

Ada kekurangan materi

Ada cinta kepada makhluk yang berlebihan

Ada kebanggaan status dan gelar yang kau raih

Syaiton tak akan berhenti menggoda

Mulai dari awal start sampai ke titik finish kehidupanmu

Misinya kau menjadi angka nol selamanya

Agar kau menyesali di akhir hidupmu ynag menentukan

Siapapun tak akan bisa menolongmu

Ayah bunda mu , istri dan anak- anak yang kausayangi , kekasih hati yang kau puja , sahabat yang baik.Triliun emas dan mutiara , mobil mewah dan istana. Ketampanan / kecantikan dan gelar ynag kau banggakan.

Kau akan tetap berada di titik nol

Jika kau tak pernah mau melangkah ke titik Ilahi

Walaupun berkali -kali pengalian dilakukan

Kau kan tetap di tik nol jika tak pernah beranjak ke titik Ilahi

Rabb telah memberimu umur dalam hitungan waktu

Pada penambahan dan pengurangan usia hidupmu di bumi

Kau juga telah diberika rumus hidup

Agar kau tak salah menghitung hidupmu

Dalam Aplikasi para sahabat Rasul

Rabb tak berhenti membimbingmu

Dalam matematika Quantum pada kitab suci Al- Qur'an

Yang diajarkan oleh profesor Jibril yang menyampaikan wahyu

Pada guru teladan Muhammad yang mulia

Melalui matematika Ilahi Yang Maha Brilian

The power of love

Posted by Jeunara at 10:39 AM

“seseorang yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang, maka dia akan rela berkorban apapun untuk yang dicintanya, karena kekuatan cinta sangat dahsyat yang mampu menerjang pagar-pagar kokoh yang menghadangnya”

Cinta dan kasih sayang adalah karunia indah yang diberikan allah kepada setiap makhluknya, berkat curahan cinta seseorang rela berkorban melakukan manfaat apapun untuk yang dicintainya meskipun itu sangat berat dan banyak onak dan duri. Seseorang yang benar-benar cinta pada tubuhnya maka ia akan rela meninggalkan rokoknya, seseorang yang cinta pada orang tuanya maka ia akan manfaatkan dengan baik uang yang diamanahkan padanya, cinta pada ilmu maka ia akan belajar dengan sungguh-sungguh.Begitulah the power of love yang seharusnya kita pahami dan ditanamkan pada diri kita, sehingga dapat dibayangkan betapa manisnya menapaki kehidupan dengan pengorbanan cinta. menuntut ilmu dengan cinta, membelanjakan uang dari orang tua dengan cinta, dan menjaga tubuh dari bahayanya asap nikotin karena cinta.

Cinta kepada allah-lah merupakan cinta tertinggi dari sekian banyak cabang cinta yang ada didunia ini. yang dapat menyingkirkan dan mengalahkan cinta-cinta yang lain. Kecintaan yang tiada lawan bandingnya.

Seorang sufi wanita dari Basrah yaitu Rabi'ah Al- Adawiyah pernah berkata ketika beliau berziarah ke makam Rasulullah Saw. : "Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, akan tetapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku kepada Allah Swt".

Begitulah the power of love seorang Rabiah Al-Adawiyah kepada allah yang kekuatanya mampu mengalahkan cinta-cinta lain, kecintaaan yang paling tertinggi kepada sang maha pemilik cinta. akan tetapi bukan berarti tidak dibenarkan cinta pada yang lain. Karena cinta kepada rasul, cinta kepada istri, cinta kepada hewan, cinta kepada harta, cinta kepada teman-teman adalah merupakan suatu bentuk cinta kepada allah. Dan dia adalah tempat berpusatnya cinta. (Center of the love)

Sewaktu masih kecil Husain cucu Rasulullah Saw. bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah ayah mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah ayah mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah ayah mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah ayah mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu sungguh hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Kecintaan seseorang kepada keluarga, harta, kedudukan adalah suatu yang lumrah, siapapun akan berkorban untuk menjaga keluarganya, hartanya, dan kedudukanya dikarenakan besarnya rasa cinta. akan tetapi waspadalah akan kecintaan terhadap mereka, jangan sampai menjauhkan atau bahkan sampai melupakan cintanya kepada allah sang pemilik cinta yang hakiki. Kecintaan yang harus lebih diunggulkan dari pada cinta yang lain, dan ini adalah merupakan tolak ukur mengenai keimanan seseorang. Nabi Saw pernah bersabda;

"Belum sempurna imam seseorang itu hingga ia Mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya dari pada yang lain".
Seseorang yang mencintai allah maka dia juga akan mencintai makhluk yang lain, karena cinta kepada allah tidak akan membuat seseorang merusak cintanya kepada yang lain justru malah sebaliknya akan sangat mencintainya karena allah. Akan tetapi cinta yang berlebihan kepada makhluk bisa jadi melupakan akan cinta kepada allah.

Jadi teringat sepenggal nasehat Aa Gym dalam ceramahnya, "hati-hati jika mencintai makhluk, jangan sampai karena hadirnya makhluk cintamu kepada Sang pencipta makhluk menjadi berkurang, karena suatu saat nanti makhluk yang kamu cintai itu bisa saja diambil dari sisi kamu"

Teman pembaca sekalian, jadi mari, dan silahkanlah bercinta dan mencintai, cinta yang segalanya hanya karena sang pemilik cinta. Cinta yang bernilai ibadah jika disandarkan karena cinta kepadanya. Dan dia adalah cinta yang lebih berharga dari pada dunia beserta isinya.

"Ya Allah karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diri kami pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih kami cintai dari pada air yang dingin bagi orang yang dahaga." Wallahu 'alam.

KAU BEGITU SEMPURNA

Posted by Jeunara at 10:15 AM

Ada pelesetan drsebuah lagu….andra dan ‘tulang punggung’

“kau begitu hancurnya”

“dimataku kau begitu hancur”



Hwahaha….lutju sih….

Tapi bagiku pelesetan itu ga pas untuk menggambarkan seseorang yang sekarang, yang sebulan lalu, telah menjadi suamiku



Lebih pas syair originalnya



Kau begitu sempurna

Di mataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan slalu memujamu



Di setiap langkahku

Ku kan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu



Janganlah kau tinggalkan diriku

Takakan mampu menghadapi semua

Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku

Kau adalah jantungku

Kau adalah hidupku lengkapi diriku

oh sayangku kau begitu sempurna….





Sayangku….tetaplah jadi yang sempurna di mataku

Untuk ku….

Dan akupun akan berusaha menjadi yg sempurna di matamu

Untuk mu….

iapakah orang yang paling sibuk?
Orang yang paling sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia harus mengurus kerajaan sebesar kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada, selalu menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan diperluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka

10 Tips Bahagia

Posted by Jeunara at 10:13 AM

1. SESUATU YANG INDAH. Kerjakan sesuatu yang menggairahkan. Misalnya, pergi ke mall, berkebun, ke taman rekreasi dengan anak-anak, mendengarkan musik. Coba juga untuk mengingat-ingat hal indah dan menarik di sekitar kita.

2. HAL POSITIF. Donorkan darah, zakatkan uang ke yatim piatu atau kerja sosial di panti asuhan. Semua yang berhubungan dengan kegiatan sosial akan menolong memperkuat rasa sosialisasi.

3. MATIKAN TV DAN RADIO. Selalu mendengarkan berita-berita yang aktual dapat menciptakan rasa takut dan gusar. Daripada melihat film atau video yang dapat menimbulkan perasaan negatif, lebih baik kerjakan sesuatu yang menyenangkan yang melibatkan seluruh keluarga.

4. BERSOSIALISASI. Keluar rumah, berkumpul dengan orang-orang yang belum Anda kenal sebelumnya, bercakap-cakap bersama-sama dan ceritakan apa yang Anda kerjakan. Rasa persahabatan akan menolong Anda merasa hidup aman di antara mereka sekaligus menghilangkan rasa takut yang sehingga membuat perasaan hidup lebih baik.

5. TERTAWALAH. Tertawa merupakan cara terbaik untuk melepaskan semua emosi negatif. Tertawa juga mengurangi ketakutan dan depresi. Pergilah makan siang dengan teman yang suka melucu. Pergi menonton film lucu atau film komedi. Bermainlah dengan anak-anak atau binatang piaraan.

6. KESEHARIAN POSITIF. Biasakan untuk memulai dan mengakhiri hari dengan catatan yang positif. Daripada membuka hari dengan menonton teve, mulailah dulu dengan sembahyang atau mendengarkan lagu atau cobalah untuk merenung dan yakin bahwa masih banyak kehidupan yang baik dibanding yang buruk di dunia ini.

7. KUASAI MARAH. Jangan biarkan kemarahan menguasai hidup Anda. Kemarahan bisa menyakitkan orang lain dan juga diri sendiri. Sebaiknya lakukan olah raga, meditasi, limpahkan semua perasaan emosi ke dalam buku harian, melukis, bahkan memainkan musik.

8. PIKIRAN MENYENANGKAN. Sebelum bangun pagi dari tempat tidur, pikirlah sesuatu yang menyenangkan yang akan dikerjakan yang dapat membuat Anda tersenyum. Entah mengingat kelakuan si kecil yang menggemaskan, cerita lucu, atau apa saja.

9.TERSENYUMLAH. Senyum di permulaan hari akan membuat Anda senang sepanjang hari. Penelitian membuktikan, senyum dapat membuat sistem imunisasi dalam tubuh berjalan dengan baik dan dapat mengurangi stres.

10. MAAFKANLAH. Kemampuan kita menjadi seorang yang pemaaf akan memperkuat hubungan persahabatan dengan sekeliling dan akan menolong jiwa kita menjadi lebih tenang

KELEBIHAN WANITA- WANITA SOLEHAH

1. Doa wanita lebih maqbul dari lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat dari lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut, jawab baginda : "Ibu lebih penyayang dari bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000 orang lelaki yang tidak soleh.

3. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 orang wali.

4. Seorang wanita solehah adalah lebih baik dari 70 lelaki soleh.

5. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah SWT dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan dari anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS

7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan kifarah (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari pertama haidhnya membaca "Alhamdulillahi'alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah". Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa."; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari seksa, bahkan AllahTa'ala mengangkatnya ke atas darjat, seperti darjatnya 40 orang mati syahid, apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.

8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.

9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

10. Dari 'Aisyah r.ha. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka."

11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

12. Apabila memanggil akan engkau kedua ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang dan puasanya)

15. 'Aisyah r.ha. berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?" Jawab baginda, "Suaminya". "Siapa pula berhak terhadap lelaki ?" Jawab Rasulullah SAW. "Ibunya".

16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (10,000 tahun).

18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

22. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT

23. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

25. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.

26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (susu badan) akan dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.

28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.

30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari sang suria akan meminta keampunan baginya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat untuknya.

32. Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seribu orang lelaki yang tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginya lapan pintu syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.

33. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulanglah ia, disapukan mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau memandang ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya kerana mencari keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah ucapannya, tiap-tiap langkahnya dan setiap pandangannya pada suaminya sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan rahmat itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.

34. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.

35. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihat isterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.

36. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

37. Wanita yang melayan dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan medapat pahala jihad.

38. Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijat suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.

39. Dari Hadrat Muaz ra.: Mana-mana wanita yang berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api,maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.

40. Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari Bani Israel yang buta sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanya yang buta telah celik. Allah kurniakan keromah (kemuliaan pada perempuan itu kerana memuliakan dan menghormati suaminya).

41. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW. keluar mengiringi jenazah. Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda lalu bertanya, "Adakah kamu menyembahyangkan mayat ?" Jawab mereka,"Tidak". Sabda Baginda "Sebaiknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami niscaya pahalanya sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.

42. Wanita yang memerah susu binatang dengan "Bismillah" akan didoakanoleh binatang itu dengan doa keberkatan.

43. Wanita yang menguli tepung gandum dengan "Bismillah" , Allah akan berkahkan rezekinya.

44. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di Baitullah.

45. "Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan mejadikan 7 parit diantara dirinya dengan api neraka, jarak di antara parit itu ialah sejauh langit dan bumi."

46. "Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat."

47. "Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas tahta di hari akhirat."

48. "Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya ganjaran sama seperti orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan memberi pakaian kepada 1000 orang yang tidak berpakaian."

49. "Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya, menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya."

50. Sabda Nabi SAW: "Ya Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong kumis (misai) dan mengerat kukunya, Allah akan memberi minum akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman- taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah ia melintas Titian Shirat."

51. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

52. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal dari suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat dari yakut.

53. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat,tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya iaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

54. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.

55. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya, cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kahwin).

56. Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia menggirangkan engkau, jika engkau memerintah ditaatinya perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.

57. Dunia yang paling aku sukai ialah wanita solehah.

58. Rasulullah SAW bersabda bahwa, "Allah telah memberikan sifat iri (pencemburu) untuk wanita dan jihad untuk lelaki. Jika seorang wanita melatih kesabarannya dengan iman dengan mengharapkan pahala dari sesuatu perkara yang menyebabkannya menjadi cemburu (iri hati), seperti misalnya suaminya menikahi isteri kedua, maka ia akan menerima ganjaran seorang syahid".

Point-point dari halaman ini terdapat di dalam kitab Kanzul 'Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain, checking satu persatu belum dibuat. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.

Nilai Sebuah Persahabatan

Posted by Jeunara at 9:56 AM


Ukirkan nilai persahabatan kita
di atas ukiran kasih syg,
ciptakan kejayaan kita bersama
di atas sebuah impian, dan....
kukuhkan ukhuwah kita
di atas keikhlasan krn Allah....
=) snyumlah walaupun dsakiti..snyum, senyum...senyum dr hati...senyumlah seperti senyuman Rasulullah...senyuman yg ikhlas.
Hakikatnya, nilai sebuah persahabatan itu xdpt dbeli dgn wang ringgit. tidak dapat ditukar ganti dengan apa2 pun. sahabat yg baik tidak boleh ditukar ganti. Susahnya mencari sahabat baik.
sahabat yang sanggup berkorban, membantu ketika susah, selalu mendoakan, sahabat yg xsanggup melihat sahabatnya diperlekehkan atau dhina, menjaga rahsia shbtnya. apa pun, dia juga seorang manusia biasa bukan malaikat. pasti tdapat cacat celanya. terimalah sahabat anda seadanya =)

Adab-adab bercanda

Posted by Jeunara at 9:54 AM

Saudariku muslimah, berbeda dengan sabar yang tidak ada batasnya, maka bercanda ada batasnya. Tidak bisa dipungkiri, di saat-saat tertentu kita memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendorkan urat syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek sehabis bekerja. Diharapkan setelah itu badan kembali segar, mental stabil, semangat bekerja tumbuh kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat. Hal ini tidak dilarang selama tidak berlebihan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun Bercanda

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Adapun contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70)

Adab Bercanda Sesuai Syariat

Poin di atas cukup mewakili arti bercanda yang dibolehkan dalam syariat. Selain itu, hal penting yang harus kita perhatikan dalam bercanda adalah:

1. Meluruskan tujuan yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan melewati batas. Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda. Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius. Seperti dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim (pengadilan-ed), ketika memberikan persaksian dan lain sebagainya.

5. Hindari perkara yang dilarang Allah Azza Wa Jalla saat bercanda.

- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

- Berdusta saat bercanda. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Rasullullah pun telah memberi ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

- Melecehkan sekelompok orang tertentu. Misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini sangat dilarang.

- Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk membuat orang lain tertawa.

6. Hindari bercanda dengan aksi atau kata-kata yang buruk. Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Isra’: 53)

7. Tidak banyak tertawa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)

8. Bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya.

9. Jangan melecehkan syiar-syiar agama dalam bercanda. Umpamanya celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat Al-Qur’an dan syair-syiarnya, wal iyadzubillah! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.

Demikianlah mengenai batasan-batasan dalam bercanda yang diperbolehkan dalam syariat. Semoga setiap kata, perbuatan, tingkah laku dan akhlak kita mendapatkan ridlo dari Allah, pun dalam masalah bercanda. Kita senantiasa memohon taufik dari Allah agar termasuk ke dalam golongan orang-orang yang wajahnya tidak dipalingkan saat di kubur nanti karena mengikuti sunnah Nabi-Nya. Wallahul musta’an.

Satu diantara sekian banyak kenyataan hidup yang wajib kita camkan baik-baik 
pada akal sehat dan hati bersih kita, bahwa manusia berada diantara tiga sifat; 
pemuji, pencela, dan penasehat. Dan sebaik-sebaik dari tiga sifat itu adalah 
yang terakhir, penasehat.
   
  Pemuji…
  
  Memuji adalah senjata yang paling berbahaya, karena bisa digunakan untuk 
menghancurkan dan membinasakan orang lain, sekaligus membunuh dirinya sendiri.
Rasulullah junjungan kita menjelaskan akan bahayanya pujian yang dibumbuhi 
dusta, dan sanjungan yang berlebih-lebihan. Beliau bersabda; "hindari pujian 
dan saling memuji, sebab hal itu adalah penyembelihan" (Hadits, Mu'jam Kabir 
Tabarani).
Namun, larangan rasul ini tidak menafikan penghargaan atas jasa dan tanda 
terima kasih, serta sanjungan kepada orang-orang yang telah berbuat kebaikan 
dan kemaslahatan.

Pencela…

  Adapun pencela dan yang suka mencaci maki, serta hobi mengeluarkan kata-kata 
kotor dan laknat. Juga senang mencemarkan nama baik dan menghujat kiri kanan, 
Dan bicaranya melampaui batas kesopanan 
dan kepantasan. "sesungguhnya sejahat-jahat manusia ialah yang membuat manusia 
lainnya takut oleh kejahatannya". (Hadits, Muwatta' Malik). "dan apabila 
ketakutan Telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam". (Qur'an, 
al-Ahzab:19). "dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah 
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan 
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya". 
(Qur'an, al-Hujurat:12). "bukanlah seorang mukmin bila mencemarkan nama baik, 
melaknat, berbuat keji, dan cabul". (Hadits, Sunan Turmudzi).
 "wahai orang yang hanya beriman dengan lidahnya sedang hatinya hampa dengan 
keimanan, janganlah menggunjingkan kaum muslimin, dan janganlah mencari-cari 
aib mereka, karena sesungguhnya orang-orang yang mencari-cari aib saudaranya, 
maka Allah akan membuka aibnya". (Hadits, Majma Zawaid). 
"memaki seorang muslim 
adalah fasik, dan membunuhnya adalah kafir". (Hadits, Sahih Bukhari).
   
Penasehat…
  Dia adalah yang terbaik diantara dua sifat dan sikap sebelumnya; pemuji dan 
pencela. Karena dia adalah yang terikhlas ketika memberikan teguran, 
peringatan, dan semangat. Inilah yang dimaksud oleh rasulullah; "agama adalah 
nasehat". (Hadits, Sahih Bukhari). Allah mengajarkan kepada kita bahwa saling 
menasehati dengan ikhlas dan benar, adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. 
Firman-Nya; "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat 
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi 
kesabaran". (Qur'an, al-Ashr: 1-3).

"Manusia, entah dia sebagai pemuji, entah sebagai pencela, dan entah sebagai 
penasehat, namun yang terbaik dari ketiganya adalah, manusia yang suka 
menasehati". Kalimat itu sengaja diulangi lagi demi menegaskan, dan memberikan 
kesadaran diri akan posisi kita, sesungguhnya berada di mana di antara 
ketiganya. Apakah kita senang menghinakan diri dan kepribadian, dengan memuji 
secara berlebihan, penuh kepalsuan, dan tanpa kebenaran. Ataukah kita suka 
memenuhi lidah kita dengan cacian, sehingga layaknya ular yang sewaktu-waktu 
siap mematok. Ataukah menjadi seorang yang berpegang erat kepada tali Allah dan 
menyeru kepada jalan-Nya, menjadi seorang yang suka berucap dengan 
kalimat-kalimat baik dan menyenangkan demi mengharapkan redha Allah?.
   
  Hanya kepada Allah tujuan hidup. Dari-Nya pembalasan dan pahala. Jika Allah 
menghendaki, maka kalian semua akan mendapatkan petunjuk dan hidayah. Aqulu 
Qauli Hadza Wa Astagfirullaha Li Walakum.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ [رواه البخاري ومسلم]

Artinya: “Abu Hurairah berkata: ‘Kekasihku, Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku tiga perkara: pertama agar selalu melakukan puasa tiga hari setiap bulan, kedua, agar melakukan shalat Dhuha dua rakaat dan ketiga, agar aku selalu melakukan shala witir sebelum tidur” (HR. Bukhari).

Dalam hadits di atas, Rasulullah saw berwasiat kepada Abu Hurairah akan tiga hal. Tidak semata-mata Rasulullah saw mewasiatkannya melainkan menunjukkan ketiga hal tersebut sangat penting. Bahkan, dalam hadits lain masih riwayat Imam Bukhari, Abu Hurairah menambahkan kata-kata: “Kekasihku, Rasulullah saw, telah berwasiat tiga hal kepadaku dan aku tidak akan meninggalkannya sampai meninggal dunia nanti……” (HR. Bukhari).

Berkaitan dengan riwayat tersebut, Ibnu Hajar al-Asqalany dalam bukunya Fathul Bari mengatakan: bahwa jumlah kata: ‘Aku tidak akan meninggalkannya sampai meninggal dunia nanti’ merupakan isi wasiat Rasulullah saw. Artinya, lanjut Ibnu Hajar, Rasulullah saw berwasiat kepada Abu Hurairah tiga hal agar tidak ditinggalkan satu kalipun sampai ajal Abu Hurairah tiba.

Lalu, bukankah dalam hadits di atas disebutkan bahwa wasiat tersebut hanya untuk Abu Hurairah, dan apakah itu juga berarti wasiat untuk kita semua? Jawabannya iya. Sekalipun redaksi haditsnya ditujukan untuk Abu Hurairah, akan tetapi hukumnya berlaku untuk umum, untuk kita semua. Karena petunjuk kepada salah seorang sahabat, merupakan petunjuk juga untuk semua orang selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Oleh karena itu, wasiat di atas hakikatnya ditujukkan untuk kita semua juga.

Untuk lebih jelas dan detailnya, berikut ini penulis mencoba menjelaskan satu persatu dari tiga wasiat di atas, sehingga lebih jelas dan dapat dengan mudah diamalkan.

1. Puasa tiga hari setiap bulan

Puasa merupakan di antara amal ibadah yang sangat mulia dan utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah saw yang menceritakan keutamaan puasa ini. Di antara keutamaannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw, adalah bahwa puasa dapat menjauhkan pelakunya dari api neraka, puasa juga merupakan di antara cara efektif seseorang dapat masuk ke dalam surga, dan puasa merupakan di antara pemberi syafa’at (penolong) kelak di hari Kiamat. Rasulullah saw dalam hal ini bersabda:

عن أبي سعيد الخدرى قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما من عبد يصوم يوما فى سبيل الله إلا باعد الله بذلك وجهه عن النار سبعين خريفا)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada seorang hamba pun yang berpuasa sekalipun satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan dirinya dari siksa api neraka sebanyak tujuh puluh kharif (tujuh puluh kharif maksudnya adalah sejauh perjalanan yang menghabiskan masa tujuh puluh tahun)" (HR. Bukhari Muslim).

عن أبي أمامة عنه قال: قلت يا رسول الله, دلنى على عمل أدخل به الجنة, قال: ((عليك بالصوم, لا مثل له)) [رواه النسائى وابن حبان والحاكم]

Artinya: "Abu Umamah berkata: "Saya bertanya kepada Rasulullah saw: 'Wahai Rasulullah saw, tunjukkan kepada saya sebuah amal perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga". Rasulullah saw menjawab: "Berpuasalah, karena tidak ada amalan yang sebanding pahalanya dengan puasa" (HR. Nasai, Ibn Majah dan Hakim).

عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة, يقول الصيام: أي رب منعته الطعام والشهوة, فشفعنى فيه, ويقول القرآن: منعته النوم بالليل, فشفعنى فيه, قال: فيشفعان)) [رواه أحمد والحاكم]

Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Puasa dan (rajin membaca) al-Qur'an, kelak pada hari Kiamat dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada hamba. Puasa kelak akan berkata: "Ya Allah, ia telah menahan dirinya dari makanan dan hawa nafsunya, maka jadikanlah saya sebagai penolongnya". Al-Qur'an juga kelak akan berkata: "Ya Allah, ia telah rela meluangkan waktunya untuk tidak tidur pada malam hari (karena membaca al-Qur'an), maka jadikanlah saya sebagai penolongnya (pemberi syafa'at)". Lalu puasa dan al-Qur'an pun, berkat idzinNya, menjadi penolong bagi hamba tersebut" (HR. Ahmad dan Hakim).

Di antara puasa yang disunnahkan oleh Rasulullah saw adalah puasa tiga hari setiap bulan Islam. Maksud dari bulan Islam adalah bulan Muharram, Shafar, Rabiul Awwal, dan seterusnya, bukan bulan Januari, Februari dan seterusnya.

Di antara keutamaan puasa tiga hari setiap bulan Islam ini adalah bahwa pahalanya sama dengan orang yang melakukan puasa selama satu tahun penuh. Rasulullah saw dalam hal ini bersabda:

عن أبي قتادة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ثلاث من كل شهر, ورمضان إلى رمضان, فهذا صيام الدهر كله)) [رواه مسلم]

Artinya: “Dari Abu Dzar bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Puasa tiga hari setiap bulan, dan puasa Ramadhan ke Ramadhan lainnya, (pahalanya) sama dengan puasa satu tahun penuh” (HR. Muslim).

عن أبي ذر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((من صام ثلاثة أيام من كل شهر فقد صام الدهر كله)) [رواه أحمد بإسناد صحيح]

Artinya: “Dari Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan puasa tiga hari setiap bulan, maka sungguh (pahalanya) ia telah berpuasa satu tahun penuh” (HR. Ahmad, dengan sanad Shahih).

Lalu, apa yang dimaksud dengan puasa tiga hari tersebut? Imam Ibnu Hajar al-Asqalany dalam bukunya Fathul Bari, ketika menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan, bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kapan dan apa maksud dari tiga hari tersebut. Menurut catatan Ibnu Hajar, para ulama dalam hal ini terbagi kepada sepuluh pendapat:

Pendapat pertama, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan puasa tiga hari setiap bulan itu tidak dalam hari tertentu dan tidak boleh menentukan hari tertentu juga. Artinya, yang penting dia berpuasa selama tiga hari setiap bulan, dan pada hari atau tanggal apa saja terserah yang bersangkutan. Misalnya, dia puasa tanggal, 1, 6 dan 12, lalu pada bulan berikutnya, tanggal 4, 9 dan 23 dan seterusnya. Hal demikian adalah sah-sah saja. Bahkan, apabila seseorang menentukan waktu tertentu untuk puasa tiga hari setiap bulannya, misalnya setiap tanggal 1, 10 dan 20, maka hukumnya makruh (dibenci). Pendapat ini, menurut Ibnu Hajar, merupakan pendapat Imam Malik.

Pendapat kedua, bahwa yang dimaksud dengan puasa tiga hari setiap bulan itu adalah puasa tiga hari pertama setiap bulan, yaitu setiap tanggal 1, 2 dan 3 setiap bulannya. Pendapat ini merupakan pendapatnya Imam Hasan al-Bashri.

Pendapat ketiga, mengatakan bahwa puasa tiga hari dimaksud adalah setiap tanggal 12, 13 dan 14 setiap bulannya.

Pendapat keempat, mengatakan setiap tanggal 13, 14 dan 15, atau yang sering disebut dengan puasa bidh (puasa bulan purnama) di mana bulan sedang memancarkan cahayanya dengan terang. Pendapat keempat ini berdasarkan hadits di bawah ini:

عن أبي ذر الغفاري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((يا أبا ذر, إذا صمت من الشهر ثلاثة أيام, فصم ثلاث عشرة, وأربع عشرة, وخمس عشرة)) [رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني]

Artinya: “Dari Abu Dzar, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, apabila kamu puasa tiga hari setiap bulan, puasalah pada tanggal 13, 14 dan 15” (HR. Turmudzi, Nasai dan hadits tersebut dinilai Shahih oleh Albany).

Pendapat kelima, puasa tiga hari dimaksud adalah dimulai pada hari Sabtu pertama, kemudian hari Ahad dan Senin. Lalu, pada bulan berikutnya, dimulai dari hari Selasa pertama, kemudian Rabu, dan Kamis. Pada bulan berikutnya dimulai dari hari Jum’at pertama, kemudian Sabtu dan Ahad. Pada bulan berikutnya dimulai dari hari Senin pertama, kemudian hari Selasa dan Rabu, demikian seterusnya. Pendapat ini disandarkan kepada pendapat Siti Aisyah.

Pendapat keenam, puasa tiga hari dimaksud adalah hari Kamis pertama, kemudian hari Senin, kemudian hari Kamis lagi. Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

Pendapat ketujuh, dimulai dari hari Senin pertama, kemudian Kamis lalu Senin lagi.

Pendapat kedelapan, dan pendapat ini merupakan pendapatnya Abu Darda, puasa tiga hari dimaksud adalah tanggal 1, tanggal 10 dan tanggal 20 setiap bulannya.

Pendapat kesembilan, yang dimaksud dengan tiga hari dimaksud adalah puasa tanggal 1, tanggal 11 dan tanggal 21 setiap bulannya. Pendapat ini disandarkan kepada pendapat Ibnu Sya’ban al-Maliky.

Pendapat kesepuluh, dan pendapat ini merupakan pendapat Imam an-Nakha’i, bahwa yang dimaksud dengan puasa tiga hari itu adalah tiga hari terakhir setiap bulannya. Apabila dalam satu bulan itu ada 30 hari, maka puasa dimaksud adalah tanggal 28, 29 dan 30. Apabila dalam satu bulannya ada 29 hari, maka puasanya tanggal 27, 28 dan 29. Dengan catatan, sekali lagi, bulan yang dipakai adalah bulan Islam (bulan Hijriyyah) bukan bulan Masehi (bukan bulan Januari, Februari dan seterusnya).

Lalu, dari sepuluh pendapat di atas, pendapat mana yang paling kuat dan dapat diambil? Para ulama dalam hal ini mengatakan, seseorang dapat mengambil hari dan tanggal apa saja, yang penting tiga hari setiap bulannya. Baik ketiga hari tersebut tertentu, misalnya 13, 14, dan tanggal 15 setiap bulan, maupun tidak tertentu, misalnya bulan ini puasa tanggal 1, 2 dan 3, bulan depan tanggal 10, 20 dan 30 dan seterusnya. Selama puasanya tiga hari dalam setiap bulan, maka sudah dipandang cukup. Hal ini mengingat dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw tidak tertentu berpuasanya, terkadang hari Kamis, Senin dan Senin lagi, dan terkadang hari lainnya.

Sebuah hadits dari Ummu Salamah misalnya menjelaskan hal itu:

عن أم سلمة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم من كل شهر يوم الخميس ويوم الإثنين من هذه الجمعة, والإثنين من المقبلة [رواه النسائي وحسنه الألباني]

Artinya: “Ummu Salamah berkata: “Rasulullah saw biasa berpuasa setiap bulannya, hari Kamis, Senin dan hari Senin minggu berikutnya” (HR. Nasai, dan hadits tersebut dinilai Hasan oleh Albany).

Bahkan, dalam hadits di bawah ini, lebih jelas lagi akan kebolehan melakukan puasa pada hari apa saja dan pada tanggal berapa saja, selama tiga hari dalam setiap bulan:

عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم ثلاثة أيام من كل شهر. فقيل لها: من أيه؟ قالت: لم يكن يبالي من أيه كان [رواه أحمد بإسناد صحيح وابن ماجه]

Artinya: “Aisyah berkata: “Adalah Rasulullah saw senantiasa puasa tiga hari setiap bulannya”. Lalu ditanyakan kepada Aisyah: “Hari apa saja yang tiga itu?” Aisyah menjawab: ‘Rasulullah saw tidak memperdulikan hari apanya (maksudnya, tidak menentukan hari tertentu, yang penting tiga hari setiap bulan)” (HR. Ahmad dengan sanad Shahih, dan Ibnu Majah).

2. Melaksanakan Shalat Dluha

Shalat Dluha termasuk shalat sunnat yang sangat dianjurkan. Para ulama menghukuminya sebagai shalat Sunnat Mu’akkadah, artinya shalat sunnat yang sangat dianjurkan dan hukumnya berada sedikiti di bawah wajib.

Di antara keutamaan dan kelebihan shalat Dluha adalah sebagai berikut:

1) Ada dua shalat sunnat, hemat penulis, yang pernah diwajibkan kepada Rasulullah saw, yaitu shalat Dluha dan Tahajud. Tidak semata-mata Allah mewajibkan kedua shalat sunnat tersebut kepada Rasulullah saw melainkan karena penting dan keutamaan dua shalat dimaksud.

Dalil bahwa shalat Tahajud pernah diwajibkan kepada Rasulullah saw adalah dalam al-Qur’an surat al-Muzammil ayat 1-4. Sementara dalil bahwa shalat Dluha pernah diwajibkan kepada Rasulullah saw adalah hadits di bawah ini:

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((كتب علي النحر ولم يكتب عليكم, وأمرت بركعتي الضحى ولم تؤمروا بها)) [رواه أحمد]

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: “Kurban wajib bagi saya, namun bagi kalian tidak, demikian juga shalat Dluha dua rakaat, sementara kalian tidak diwajibkan”.

Hanya saja, sebagian ulama menilai hadits tersebut Dhaif (lemah), mengingat banyak hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw terkadang melakukan shalat Dluha dan terkadang pula meninggalkannya. Ini artinya, menurut sebagian ulama, bahwa shalat Dluha tidak wajib bagi Rasulullah saw.

Hemat penulis, kedua pendapat tersebut tidak bertentangan dan dapat digabungkan satu sama lain. Shalat Dluha pernah diwajibkan kepada Rasulullah saw, kemudian kewajibannya ini dihapuskan. Karena itu, Hadits yang mengatakan bahwa shalat Dluha wajib bagi Rasulullah saw, itu pada waktu belum dihapuskan kewajibannya.

Sedangkan hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah saw terkadang melaksanakannya dan terkadang pula meninggalkannya, dating setelah kewajiban tersebut dihapus. Namun terlepas dari itu semua, dengan dipilihnya shalat Dluha sebagai shalat yang wajib kepada Rasulullah saw, menunjukkan bahwa shalat Dluha ini memiliki keutamaan tersendiri.

2) Shalat Dluha juga merupakan di antara shalat dimana waktu pelaksanaannya disebutkan dalam al-Qur’an, bahkan Allah bersumpah dengan waktunya. Ada tiga waktu, hemat penulis, di mana Allah dalam al-Qur’an bersumpah dengan tiga waktu ini, yaitu waktu Dluha (surat adh-Dluha ayat 1), waktu Ashar (surat al-‘Ashr ayat 1, sebagian ahli tafsir sebagaimana diungkapkan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatihul Ghaib mengatakan bahwa ada banyak ulama yang mengartikan kata ‘ashr dalam ayat dimaksud adalah waktu Ashar, bukan waktu dalam pengertian umum), dan waktu Fajar (surat al-Fajr ayat 1). TIdak semata-mata Allah bersumpah dengan tiga waktu ini, melainkan ada keutamaan tersendiri dari tiga waktu dimaksud.

Bahkan, dalam tiga waktu di atas, Allah mensyariatkan shalat yang kemudian shalat ini disebut dengan nama waktunya, Shalat Dluha, Shalat, Shalat Ashar dan Shalat Fajar (Shalat Shubuh). Dan, hemat penulis, hanya tiga waktu dan tiga shalat inilah yang disebutkan dalam al-Qur’an dimana Allah bersumpah dengan ketiga waktu di atas. Ada satu shalat lagi, yaitu Shalat Tahajud yang juga disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an, hanya Allah tidak bersumpah dengan waktunya (QS. Al-Isra ayat 79).

3) Shalat Dluha merupakan shadaqahnya 360 sendi tulang dalam tubuh manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw dalam hadits di bawah ini:

عن أبي ذر, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة, فكل تسبيحة صدقة, وكل تحميدة صدقة, وكل تهليلة صدقة, وكل تكبيرة صدقة, وأمر بالمعروف صدقة, ونهي عن المنكر صدقة, ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى)) [رواه مسلم]

Artinya: "Dari Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda: "Hendaklah setiap tulang-tulang kalian bersedekah, setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah shadaqah, setiap ucapan tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap ucapan tahlil (laa ilaaha illallaah) adalah shadaqah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, mengajak kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah. Semua yang disebutkan di atas tersebut dapat diraih (pahalanya) hanya dengan melakukan shalat Dluha dua rakaat" (HR. Muslim).

عن بريدة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:((فى الإنسان ستون وثلاثمائة مفصل, عليه أن يتصدق عن كل مفصل منها صدقة)) قالوا: فمن الذى يطيق يا رسول الله؟ قال: ((النخامة فى المسجد يدفنها, أو الشيئ ينحيه عن الطريق, فإن لم يقدر فركعتا الضحى تجزئ عنه)) [رواه أبو داود وأحمد والحديث صحيح]

Artinya: "Dari Buraidah, Rasulullah saw bersabda: "Pada tubuh manusia itu terdapat tiga ratus enam puluh buah sendi-sendi tulang. Setiap sendi tulang tersebut hendaknya dapat melakukan satu shadaqah". Para sahabat lalu bertanya: "Siapakah orang yang dapat melakukan hal itu wahai Rasulullah saw?" Rasulullah saw bersabda: "Yaitu orang yang mengubur (membersihkan) dahak yang berada di dalam mesjid, atau orang yang menyingkirkan duri dan sejenisnya dari tengah jalan. Apabila tidak mampu melakukan hal itu, maka cukup kamu melaksanakan shalat Dluha dua rakaat" (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad, serta haditsnya Shahih).

3) Melakukan shalat Dluha merupakan di antara ciri orang yang tunduk dan bertakwa kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب)) قال: ((وهي صلاة الأوبين)) [رواه ابن خزيمة والحاكم والحديث حسن].

Artinya: "Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada yang selalu menjaga untuk melakukan shalat Dluha, melainkan orang yang kembali (kepada kebaikan). Dalam riwayat lain dikatakan: "Shalat Dluha itu adalah shalatnya orang-orang yang kembali kepada kebenaran" (HR. Ibn Khuzaemah dan Imam Hakim, serta haditsnya hadits Hasan).

Kapan waktu melaksanakannya?

Para ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan shalat Dluha adalah setelah matahari terbit sampai matahari tergelincir sedikit (zawal, atau sebelum waktu Dluhur). Di antara dalilnya adalah:

عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من صلى الغداة فى جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس, ثم صلى ركعتين, كانت له كأجر حجة وعمرة تامة, تامة, تامة)) [أخرجه الترمذى والحديث حسن]

Artinya: "Anas berkata, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka pahalanya sama dengan pahala melakukan Haji dan Umrah secara sempurna, secara sempurna, secara sempurna" (HR. Turmudzi dan haditsnya Hasan).

Sedangkan mengapa waktu paling akhir pelaksanaanya adalah ketika matahari tergelincir sedikit (zawal, sebelum Dluhur), karena sesuai dengan namanya yakni Dluha, yang berarti waktu sebelum matahari tergelincir. Demikian menurut para ulama Fiqih.

Dari waktu pelaksanaan tadi, terdapat waktu yang paling utama (afdhal) untuk melakukannya, yaitu pada waktu panas matahari sudah mulai memanas (sekitar jam 08.00 atau 08.30 pagi). Hal ini didasarkan kepada hadits di bawah ini:

عن زيد بن أرقم أنه رأى قوما يصلون من الضحى, فقال: أما لقد علموا أن الصلاة فى غير هذه الساعة أفضل, إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((صلاة الأوبين حين ترمض الفصال)) [رواه مسلم]

Artinya: "Dari Zaid bin Arqam bahwasannya ia melihat sekelompok orang melakukan shalat Dluha. Zaid berkata: "Kalau seandainya kalian mengetahui bahwa waktu paling utama untuk melakukan shalat Dluha adalah bukan waktu ini. Rasulullah saw pernah bersabda: "Shalat orang-orang yang bertaubat (shalat Dluha) itu (sebaiknya dilakukan) ketika anak-anak unta mulai merasakan panasnya terik matahari" (HR. Muslim).

Jumlah rakaatnya

Shalat Dluha paling sedikit dilakukan dua rakaat, dan paling banyaknya dilakukan dua belas rakaat. Selain jumlah di atas, shalat Dluha juga dapat dilakukan dalam jumlah empat, enam dan delapan rakaat. Apabila anda hendak melakukannya dalam jumlah empat, enam, delapan atau dua belas rakaat, maka lakukanlah dua rakaat-dua rakaat. Artinya, setelah dua rakaat anda salam, kemudian bangun lagi dan shalat kembali dua rakaat. Demikian seterusnya. Hal ini didasarkan kepada hadits di bawah ini:

عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) [رواه النسائى وابن ماجه والحديث صححه الألبانى]

Artinya: "Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: "Shalat malam dan shalat siang itu hendaknya dilakukan dua rakaat-dua rakaat" (HR. Nasai dan Ibnu Majar. Hadits tersebut dipandang shahih oleh Imam al-Bani).

Dalil bahwa shalat Dluha dapat dilakukan dua rakaat adalah hadits di bawah ini:

عن أبي ذر, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة, فكل تسبيحة صدقة, وكل تحميدة صدقة, وكل تهليلة صدقة, وكل تكبيرة صدقة, وأمر بالمعروف صدقة, ونهي عن المنكر صدقة, ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى)) [رواه مسلم]

Artinya: "Dari Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda: "Hendaklah setiap tulang-tulang kalian bersedekah, setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah shadaqah, setiap ucapan tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap ucapan tahlil (laa ilaaha illallaah) adalah shadaqah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, mengajak kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah. Semua yang disebutkan di atas tersebut dapat diraih (pahalanya) hanya dengan melakukan shalat Dluha dua rakaat" (HR. Muslim).

Dalil bahwa shalat Dluha dapat dilakukan empat rakaat adalah:

عن أبي الدرداء وأبي ذر, عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((يقول الله عز وجل: ابن أدم! اركع لي من أول النهار أربع ركعات, أكفك آخره)) [رواه الترمذى والحديث حسن]

Artinya: "Dari Abu Darda dan Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda: "Allah swt berfirman: 'Wahai keturunan Adam, shalatlah untukku empat rakaat pada permulaan siang, niscaya saya cukupkan akhir siangnya" (HR. Turmudzi dan haditsnya Hasan).

Dalil shalat Dluha dapat dilakukan enam rakaat:

عن أنس بن مالك, أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلى الضحى ست ركعات [رواه الترمذى والحديث صحيح لغيره].

Artinya: "Dari Anas bin Malik, bahwasannya Rasulullah saw melakukan shalat Dluha enam rakaat" (HR. Turmudzi dan haditsnya Shahih Lighairihi).

Dalil shalat Dluha dapat dilakukan delapan rakaat adalah:

عن أم هانئ قالت: لما كان عام الفتح, أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو بأعلى مكة, قام رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى غسله, فسترت عليه فاطمة, ثم أخذ ثوبه, فالتحف به, ثم صلى ثمان ركعات سبحة الضحى [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: "Ummu Hani' berkata: "Pada saat penaklukan kota Mekah, saya datang menghadap Rasulullah saw dan beliau sedang berada di ujung kota Mekah. Rasulullah saw lalu berdiri menuju tempat mandinya dan Fatimah menutupinya, lalu beliau mengambil pakaiannya dan memakainya kemudian Rasulullah saw melakukan shalat Dluha sebanyak delapan rakaat" (HR. Bukhari Muslim).

Sedangkan dalil bolehnya dilakukan dua belas rakaat adalah hadits di bawah ini:

عن أبي الدرداء قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من صلى الضحى ركعتين, لم يكتب من الغافلين, ومن صلى أربعا, كتب من العابدين, ومن صلى ستا, كفي ذلك اليوم, ومن صلى ثمانيا, كتبه الله من القانتين, ومن صلى ثنتى عشرة ركعة, بنى الله له بيتا فى الجنة, وما من يوم ولا ليلة إلا لله من يمن به على عباده صدقة, وما من الله على أحد من عباده أفضل من أن يلهمه ذكره)) [رواه الطبرانى والحديث حسن]

Artinya: "Abu Darda berkata, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang melakukan shalat Dluha dua rakaat, maka ia tidak akan tercatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat Dluhanya empat rakaat, maka ia termasuk orang yang ahli beribadah. Siapa yang shalat Dluhanya enam rakaat, maka Allah akan cukupkan (kebaikan) baginya untuk hari itu. Barangsiapa yang shalat Dluha delapan rakaat, Allah akan mencatatnya sebagai orang yang patuh tunduk, serta siapa yang shalat Dluha dua belas rakaat, Allah akan membangunkan sebuah rumah kelak di surga. Tidak ada satu hari ataupun malam melainkan ada orang yang diberikan karunia oleh Allah berupa sedekah. Namun, tidak ada karunia dan pemberian paling utama dari Allah bagi seseorang, selain Allah mengilhamkan kepadanya untuk selalu berdzikir dan mengingatNya" (HR. Thabrani, dan haditsnya Hasan).

3. Melakukan Shalat Witir

Secara bahasa Witir berarti ganjil (al'adad al-fardi). Sedangkan secara istilah, Shalat Witir berarti shalat Sunnat yang jumlah rakaatnya ganjil yang dapat dilakukan di antara waktu shalat Isya dengan waktu sebelum Shalat Shubuh, dan dilakukan sebagai penutup dari shalat malam.

Dalam kitab al-Majmu' (4/480), Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat apakah Shalat Witir ini termasuk bagian dari shalat Tahajud atau tidak. Sebagian ulama memasukkannya sebagai salah satu bagian dari shalat Tahajjud. Artinya, ketika dikatakan shalat Tahajjud, maka Shalat Witir termasuk di dalamnya. Ulama lain mengatakan bahwa ia berdiri sendiri, terpisah dari shalat Tahajjud.

Shalat Witir termasuk shalat sunnah mu’akkadah, bahkan Madzhab Hanafi memandangnya sebagai sesuatu yang wajib. Shalat Witir mempunyai banyak kelebihan dan keutamaan, di antaranya termasuk shalat yang dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam banyak hadits. Tidak semata-mata Rasulullah saw menganjurkan dalam banyak kesempatan, kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Di antara hadits tentang keutamaan shalat Witir adalah:

عن ابن مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((يا أهل القرآن أوتروا فإن الله عز وجل وتر يحب الوتر)) [رواه ابن ماجه والترمذي وأحمد وحسنه الألباني].

Artinya: “Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw bersabda: “Wahai para pecinta al-Qur’an, shalat Witirlah kalian, kerena Allah itu Witir (ganjil, maksudnya satu), dan Allah menyukai Witir (yang tidak genap)’ (HR. Ibnu Majah, Turmudzi, Ahmad, dan Albany menilai hadits tersebut Hasan).

Mengingat pentingnya shalat Witir ini, Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam bukunya Majmu’ al-Fatawa (23/88): ‘Semua ummat Islam sepakat bahwa Shalat Witir hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnat yang sangat dianjurkan). Siapa yang meninggalkannya, berarti telah meninggalkan pengakuannya. Shalat Witir lebih baik dan lebih utama dari pada shalat sunnat rawatib Zhuhur, Maghrib dan Rawatib Isya. Dan Shalat Witir lebih baik dan lebih utama dari semua shalat-shalat sunnat siang hari seperti Shalat Dluha, bahkan, shalat yang paling utama dan paling baik setelah shalat-shalat wajib adalah shalat malam, yang di antara shalat malam tersebut adalah shalat Witir dan shalat sunnat rawatib dua rakaat sebelum Shubuh (qabliyyah Shubuh”.

Waktu melaksanakannya

Para ulama telah sepakat bahwa Shalat Witir dapat dilakukan di antara waktu setelah shalat Isya sampai sebelum terbit fajar. Artinya, ia dapat melakukan di awal malam, pertengahan atau akhir malam (baik sebelum maupun sesudah tidur). Namun, dari waktu tersebut, waktu yang paling disukai oleh Allah untuk melaksanakan Shalat Witir adalah sepertiga malam paling akhir (waktu dini hari, setelah tengah malam). Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

عن عائشة قالت: ((من كل الليل قد أوتر رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أول الليل وأوسطه وآخره, فانتهى وتره إلى السحر)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Rasulullah saw melakukan Shalat Witir setiap malam, terkadang di permulaan malam, pertengahan dan di akhir malam. Namun, beliau kemudian melakukannya pada waktu sahur (sepertiga malam terakhir)" (HR. Bukhari Muslim).

Apabila seseorang merasa yakin bahwa ia akan bangun pada waktu sepertiga malam akhir, maka lebih utama apabila ia mengakhirkan pelaksanaan Shalat Witirnya pada akhir malam. Namun, apabila ia merasa yakin tidak akan bangun pada sepertiga akhir malam tersebut, maka sebaiknya ia melakukan Shalat Witir sebelum tidur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من خاف منكم ألا يستيقظ من آخر الليل, فليوتر وليرقد, ومن طمع منكم أن يستيقظ من آخر الليل فليوتر من آخره, فإن صلاة آخر الليل محضورة, فذلك أفضل)) [رواه مسلم]

Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang merasa khawatir tidak dapat bangun pada akhir malam, maka Shalat Witirlah terlebih dahulu kemudian baru tidur. Namun bagi yang merasa yakin dapat bangun di akhir malam, maka Shalat Witirlah di waktu akhir malam tersebut. Karena Shalat Witir di akhir malam itu akan dihadiri oleh para malaikat, dan waktu tersebut adalah waktu yang paling utama" (HR. Muslim).

Demikian juga, sebaiknya Shalat Witir dilakukan sebagai penutup shalat-shalat sunnat malam lainnya. Artinya, Shalat Witir sebaiknya dilakukan setelah semua shalat malam dilakukan dengan lengkap, sehingga setelah Shalat Witir tidak ada lagi shalat sunnat malam yang dikerjakan, karena sudah ditutup oleh shalat Witir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda: "Jadikanlah Shalat Witir sebagai shalat paling akhir dari shalat malam kalian" (HR. Bukhari Muslim).

Apakah apabila telah melakukan Shalat Witir, masih boleh melakukan shalat sunnat lainnya, dan apakah Shalat Witir boleh dilakukan berulang-ulang?

Para ulama dalam hal ini terbagi kepada dua pendapat (lihat dalam al-Majmu': 3/521), Bidayatul Mujtahid: 1/297, Fathul Qadir: 1/312):

Pendapat pertama mengatakan bahwa boleh melakukan shalat sunnat lainnya sekalipun sudah melakukan Shalat Witir. Ia boleh shalat sunnat berapa saja ia kehendaki, hanya ia tidak boleh mengulang Shalat Witirnya. Pendapat ini adalah pendapatnya jumhur ulama seperti Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah, sebagian besar Syafi'iyyah, Ibrahim an-Nakha'I, juga pendapatnya Abu Bakar, Ibn Abbas, Siti Aisyah dan shahabat-shahabat lainnya. Hal ini didasarkan kepada hadits-hadits berikut ini:

عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يسلم تسليما يسمعنا, ثم يصلى ركعتين بعدما يسلم وهو قاعد)) [رواه مسلم]

Artinya: Dari Siti Aisyah bahwasannya Rasulullah saw, mengucapkan salam (dalam Shalat Witir) dengan suara agak keras sehingga kami mendengarnya, lalu beliau shalat lagi dua rakaat sambil duduk setelah beliau mengucapkan salam (maksudnya setelah selesai melakukan Shalat Witir)" (HR. Muslim).

Dalam hadits lain dikatakan:

عن أم سلمة أنه صلى الله عليه وسلم كان يركع ركعتين بعد الوتر وهو جالس (رواه الترمذى وابن ماجه بإسناد لين)

Artinya: "Dari Ummu Salamah, bahwasannya Rasulullah saw melakukan shalat sunnat dua rakaat sambil duduk setelah beliau Shalat Witir" (HR. Turmudzi, Ibn Majah dengan sanad lemah).

عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من خاف منكم ألا يستيقظ من آخر الليل, فليوتر وليرقد, ومن طمع منكم أن يستيقظ من آخر الليل فليوتر من آخره, فإن صلاة آخر الليل محضورة, فذلك أفضل)) [رواه مسلم]

Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang merasa khawatir tidak dapat bangun pada akhir malam, maka Shalat Witirlah terlebih dahulu kemudian baru tidur. Namun bagi yang merasa yakin dapat bangun di akhir malam, maka Shalat Witirlah di waktu akhir malam tersebut. Karena Shalat Witir di akhir malam itu akan dihadiri oleh para malaikat, dan waktu tersebut adalah waktu yang paling utama" (HR. Muslim).

Semua hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya melakukan shalat sunnat setelah Shalat Witir. Namun demikian, apabila setelah Shalat Witir melakukan shalat sunnat lainnya, tetap untuk Shalat Witir tidak boleh dilakukan untuk yang kedua kalinya (tidak boleh dua kali atau lebih cukup satu kali saja). Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

عن طلق بن علي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لا وتران فى ليلة)) [رواه الترمذى وأبو داود والحديث حسن]

Artinya: "Dari Thalq bin Ali bahwasannya Rasulullah saw bersabda: "Tidak boleh melakukan dua Shalat Witir dalam satu malam" (HR. Turmudzi, Abu Dawud dan haditsnya Hasan).

Pendapat kedua, mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnat lainnya setelah Shalat Witir, kecuali apabila Shalat Witir yang telah dilakukannya itu batal dan harus diulang. Maka ia boleh melakukan shalat sunnat lainnya terlebih dahulu, lalu ditutup dengan Shalat Witir. Pendapat ini adalah pendapatnya Ibn Umar, Ibn Mas'ud, Utsman bin Affan dan sebagian ulama Syafi'iyyah. Di antara dalil yang dijadikan pegangan kelompok ini adalah:

عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا)) [رواه البخارى ومسلم]

Artinya: Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda: "Jadikanlah Shalat Witir sebagai shalat paling akhir dari shalat malam kalian" (HR. Bukhari Muslim).

Namun demikian, pendapat yang paling kuat, hemat penulis, adalah pendapat jumhur ulama, pendapat pertama. Hal ini dikarenakan dalam hadits-hadits di atas disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah melakukan shalat sunnat lainnya setelah beliau melakukan Shalat Witir. Apabila setelah Shalat Witir tidak boleh melakukan shalat sunnat lainnya, tentu dalam hadits di atas, Rasulullah saw tidak akan membolehkan seseorang yang dikhawatirkan tidak akan dapat bangun di akhir malam untuk melakukan Shalat Witir sebelum tidur. Di samping itu, harus dipahami bahwa Shalat Witir sebagai penutup shalat sunnat malam, tidak berarti tidak boleh sama sekali untuk melaksanakan shalat sunnat setelah Shalat Witir. Namun, harus dipahami bahwa umumnya dan sebaiknya Shalat Witir itu dilakukan setelah seluruh shalat sunnat malam lainnya dikerjakan. Wallahu a'lam.

Jumlah rakaat Shalat Witir dan cara melaksanakannya

Dalam beberapa hadits di bawah ini disebutkan bahwa Shalat Witir boleh dilakukan dalam jumlah satu atau tiga atau lima atau tujuh atau sembilan rakaat. Bahkan, dalam madzhab Syafi’i juga diperbolehkan dalam jumlah sebelas rakaat. Imam Nawawi dalam Raudhatut Thaalibin mengatakan: “Shalat Witir hukumnya sunnat, dapat dilakukan dalam jumlah satu rakaat, tiga, lima, tujuh, sembilan dan sebelas rakaat. Dan sebelas rakaat ini jumlah maksimalnya. Apabila lebih dari sebelas rakaat, menurut pendapat yang paling kuat, maka tidak sah shalat witirnya”.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan lebih lanjut berikut dalil-dalilnya:

1) Shalat Witir satu rakaat

Jumhur ulama berpendapat bahwa Shalat Witir boleh dilakukan dalam jumlah satu rakaat. Hal ini di antaranya didasarkan kepada dalil-dalil berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل مثنى مثنى, فإذا خشي أحدكم الصبح, صلى واحدة توتر له ما قد صلى)) [رواه البخارى]

Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Apabila seseorang merasa khawatir akan segera datang waktu Shubuh, maka shalatlah satu rakaat, sebagai Shalat Witir baginya dari shalat-shalat yang telah dilakukannya". (HR. Bukhari).

عن ابن عمر ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((الوتر ركعة من آخر الليل)) [رواه مسلم]

Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Shalat Witir itu satu rakaat pada waktu akhir malam" (HR. Muslim).

عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلى من الليل إحدى عشرة ركعة, يوتر منها بواحدة (رواه مسلم]

Artinya: "Dari Siti Aisyah, bahwasannya Rasulullah saw melakukan shalat malam sebanyak sebelas rakaat, di antaranya dengan Shalat Witir satu rakaat" (HR. Muslim).

Sementara menurut Imam Abu Hanifah, bahwa minimal Shalat Witir itu adalah tiga rakaat. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((المغرب وتر النهار)) [رواه أحمد]

Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Maghrib itu adalah Witirnya siang hari" (HR. Ahmad).

Namun demikian, tentu hadits yang dijadikan pegangan oleh Abu Hanifah tidak berarti batasan bahwa minimal rakaat Witir itu adalah seperti shalat Maghrib, yaitu tiga rakaat, hanya saja hal itu sebagai salah satu bagian dari Shalat Witir. Dan satu rakaat pun tetap diperbolehkan, karena banyak hadits-hadits yang menguatkan hal itu sebagaiman telah disebutkan di atas.

2) Shalat Witir tiga rakaat

Untuk Shalat Witir yang tiga rakaat, boleh dilakukan dengan dua cara

1) Shalat dua rakaat terlebih dahulu, lalu salam, lalu berdiri lagi dan shalat satu rakaat lalu salam lagi sehingga semuanya menjadi tiga rakaat. Bolehnya melakukan Shalat Witir seperti ini berdasarkan hadits berikut ini:

عن ابن عمر أنه كان يسلم بين الركعتين والوتر حتى يأمر ببعض حاجته (رواه البخارى)

Artinya: Dari Ibnu Umar bahwasannya ia melakukan salam di antara dua rakaat dan Witir (dan satu rakaat), sehingga ia dapat memerintahkan untuk menyelesaikan sebagian keperluannya" (HR. Bukhari).

عن ابن عمر كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفصل الشفع والوتر بتسليم يسمعناه (رواه أحمد وابن حبان)

Artinya: "Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah saw memisahkan antara rakaat genap dan ganjil dengan salam yang kami dapat mendengarnya" (HR. Ahmad dan Ibn Hibban)

عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقرأ فى الركعتين اللتين يوتر بعدهما (سبح اسم ربك الأعلى) و (قل يا أيها الكافرون), ويقرأ فى الوتر ب (قل هو الله أحد) و (قل أعوذ برب الفلق) و (قل أعوذ برب الناس) [أخرجه الطحاوى والحديث ضعيف]

Artinya: Dari Siti Aisyah bahwasannya Rasulullah saw pada dua rakaat Shalat Witir membaca surat al-A'la dan al-Kafirun. Kemudian beliau membaca pada rakaat ketiga dari Shalat Witir surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas" (HR. at-Thahawi dan haditsnya Dhaif).

2) Shalat tiga rakaat sekaligus dengan satu kali tasyahud. Hal ini juga pernah dipraktekkan oleh Rasulullah saw sebagaimana tertera dalam hadits berikut ini:

عن عائشة قالت: ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم فى رمضان ولا فى غيره يزيد على إحدى عشرة ركعة: يصلى أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن, ثم يصلى أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن, ثم يصلى ثلاثا...(رواه البخارى ومسلم)

Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Rasulullah saw tidak pernah melakukan shalat malam baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya, lebih dari sebelas rakaat; beliau shalat empat rakaat, dan kamu tidak usah menanyakan bagus dan lamanya, lalu shalat empat rakaat lagi, dan jangan ditanya mengenai bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat" (HR. Bukhari Muslim).

عن عائشة قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوتر بثلاث لا يقعد إلا فى آخرهن (رواه النسائ والحاكم ومالك)

Artinya: Siti Aisyah berkata: "Rasulullah saw melakukan Shalat Witir sebanyak tiga rakaat, dan beliau tidak duduk (maksudnya tasyahud) kecuali pada rakaat paling akhir" (HR. Nasa'i, Hakim dan Malik).

Namun demikian, apabila Shalat Witir ini dilakukan tiga rakaat sekaligus, maka tidak boleh memakai tasyahud awal (tapi cukup satu kali tasyahud saja yaitu tasyahud akhir) sebagaimana shalat Maghrib. Hal ini karena ada hadits yang mengatakan:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((لا توتروا بثلاث, أوتروا بخمس أو بسبع, ولا تشبهوا بصلاة المغرب)) [رواه الحاكم والبيهقى]

Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Janganlah Shalat Witir dengan tiga rakaat, Shalat Witirlah dengan lima atau tuhuh rakaat. Namun jangan seperti melakukan shalat maghrib (pakai tasyahud awal)" (HR. Hakim dan Baihaki).

Surat apa yang sebaiknya dibaca pada tiga rakaat Shalat Witir?

Dalam hadits di bawah ini, disebutkan bahwa sebaiknya surat yang dibaca pada Shalat Witir tiga rakaat adalah: pada rakaat pertama surat al-A'la (sabbihis marabbikal a'la), pada rakaat kedua al-Kafirun (qul ya ayyuhal kaafirun) dan pada rakaat ketiga surat al-Ikhlas (qul huwallahu ahad), tentu semuanya setelah membaca surat al-Fatihah terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana tertera dalam hadits berikut ini:

عن ابن عباس قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ فى الوتر ب(سبح اسم ربك الأعلى) و (قل ياأيها الكافرون) و (قل هو الله أحد) فى ركعة ركعة)) [رواه الترمذى والنسائى]

Artinya: Dari Ibn Abbas, bahwasannya Rasulullah saw apabila Shalat Witir, beliau membaca surat al-A'la (sabbihis marabbikal a'la), al-Kafirun (Qul ya ayyuhal kaafirun) dan al-Ikhlas (qul huwallahu ahad) pada setiap rakaatnya" (HR. Turmduzi dan Nasai).

عن أبي بن كعب قال: ((كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ فى الوتر ب(سبح اسم ربك الأعلى) و (قل يا أيها الكافرون) و(قل هو الله أحد), فإذا سلم قال: سبحان الملك القدوس, سبحان الملك القدوس ثلاث مرات)) [رواه أبو داود والنسائى]

Artinya: Ubay bin Ka'ab berkata: "Rasulullah saw apabila Shalat Witir, beliau membaca surat al-A'la, al-Kafirun dan al-Ikhlas. Apabila beliau telah salam, beliau membaca: Subhanalmalikil kuddus (maha suci Allah, Maha Raja dan Maha Suci), subhanal malikil kuddus sebanyak tiga kali" (HR. Abu Dawud dan Nasai).

Sementara menurut Malikiyyah dan Syafi'iyyah, disunnahkan ketika rakaat ketiga dari Shalat Witir, di samping membaca surat al-Ikhlas juga membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقرأ فى الركعتين اللتين يوتر بعدهما (سبح اسم ربك الأعلى) و (قل يا أيها الكافرون), ويقرأ فى الوتر ب (قل هو الله أحد) و (قل أعوذ برب الفلق) و (قل أعوذ برب الناس) [أخرجه الطحاوى والحديث ضعيف]

Artinya: Dari Siti Aisyah bahwasannya Rasulullah saw pada dua rakaat Shalat Witir membaca surat al-A'la dan al-Kafirun. Kemudian beliau membaca pada rakaat ketiga dari Shalat Witir surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas" (HR. at-Thahawi dan haditsnya Dhaif).

Hanya saja, hadits terakhir ini dhaif, dan karenanya hemat penulis, pada rakaat ketiga cukup hanya membaca al-Ikhlas saja. Wallahu a'lam

3) Shalat Witir lima rakaat

Shalat Witir juga boleh dilakukan dalam jumlah lima rakaat, dan tidak ada tasyahud awal. Duduk tasyahudnya cukup satu kali yaitu pada rakaat kelima. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

عن عائشة قالت: ((كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلى من الليل ثلاث عشرة ركعة يوتر من ذلك بخمس لا يجلس إلا فى آخرها)) [رواه مسلم]

Artinya: "Siti Aisyah berkata: "Rasulullah saw melakukan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat. Beliau melakukan Shalat Witirnya sebanyak lima rakaat dan beliau tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat terakhir (kelima) saja" (HR. Muslim)

4) Shalat Witir tujuh atau sembilan rakaat

Shalat Witir juga boleh dilakukan dalam jumlah tujuh atau sembilan rakaat. Namun, untuk Shalat Witir yang dilakuan dalam jumlah tujuh atau sembilan rakaat, maka tasyahud dilakukan dalam dua tempat. Tasyahud awal ketika rakaat menjelang akhir (para rakaat keenam atau kedelapan), dan tasyahud akhir pada rakaat terakhir.

Prakteknya, apabila sudah sampai rakaat ke enam (bagi yang hendak Witir tujuh rakaat), atau apabila sudah sampai pada rakaat kedelapan (bagi yang hendak Witir sembilan rakaat), duduk tasyahud terlebih dahulu, tanpa salam, kemudian ia bangkit lagi untuk shalat satu rakaat lagi, dan setelah itu ia tasyahud akhir lalu salam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

عن عائشة فى صفة وتر النبي صلى الله عليه وسلم قالت: ((كنا نعد له صلى الله عليه و سلم سواكه, فيبعثه الله ما شاء أن يبعثه من الليل, فيتسوك ويتوضأ, ويصلى تسع ركعات لا يجلس فيها إلا فى الثامنة, فيذكر الله ويحمده ويدعوه, ثم ينهض ولا يسلم, ثم يقوم التاسعة, ثم يقعد فيذكر الله ويحمده ويدعوه, ثم يسلم تسليما يسمعناه, ثم يصلى ركعتين بعد ما يسلم وهو قاعد فتلك إحدى عشرة ركعة يا بني, فلما أسن نبي الله صلى الله عليه وسلم وأخذ اللحم أوتر بسبع, وصنع فى الركعتين مثل صنيعه الأول, فتلك تسع يا بني)) [رواه مسلم]

Artinya: "Siti Aisyah berkata tentang sifat Rasulullah saw dalam melaksanakan Shalat Witir: "Kami biasa menyediakan siwak untuk Rasulullah saw. Allah lalu membangunkannya pada waktu malam. Beliau lalu bersiwak, lalu berwudhu, lalu shalat sebanyak sembilan rakaat. Beliau tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat kedelapan, beliau (pada duduk tasyahud tersebut) menyebut nama Allah, memujiNya dan berdoa kepadaNya. Lalu beliau bangkit tanpa ada salam sebelumnya. Beliau bangkit untuk rakaat yang kesembilan, lalu beliau duduk tasyahud, membaca dzikir, tahmid dan berdoa, kemudian beliau mengucapkan salam sehingga kami betul-betul dapat mendengarnya. Lalu beliau shalat dua rakaat sambil duduk setelah selesai Shalat Witir. Jumlah seluruhnya, wahai putraku, adalah sebelas rakaat. Ketika Rasulullah saw sudah menginjak masa tua, beliau melakukan Shalat Witir sebanyak tujuh rakaat. Beliau juga melakukan shalat dua rakaat sebagaimana yang dilakukannya pada sebelumnya (dua rakaat setelah selesai Shalat Witir), sehingga, wahai putraku, jumlah semuanya adalah sembilan rakaat" (HR. Muslim).

Demikian, penjelasan singkat tiga wasiat Rasulullah saw untuk kita semua. Semoga kita semua sejak saat ini, mulai merutinkan untuk melakukan tiga wasiat Rasulullah saw di atas, mengingat betapa besar dan utamanya ketiga hal dimaksud; puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dluha dan Shalat Witir.

Mengakhiri tulisan ini, alangkah baiknya penulis kutipkan di antara sabda Rasulullah saw di bawah ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تزولا قدما عبد حتى يسأل يوم القيامة عن أربع: عن عمره فيما أفناه, وعن علمه ماذا عمل فيه, وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه, وعن جسمه فيما أبلاه)) [رواه الترمذي وصححه الألباني]

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “TIdak beranjak kedua kaki seseorang kelak pada hari Kiamat, melainkan akan ditanya empat hal: Tentang umurnya, dalam hal apa dihabiskan, tentang ilmunya, apa yang telah diperbuatnya, tentang hartanya, dari mana didapatkan dan kemana dihabiskan, serta tentang badannya dalam hal apa dipergunakan” (HR. Turmudzi, dan Albany menilai hadits tersebut Shahih).

Semua yang ada di tubuh kita akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk umur yang telah Allah berikan kepada kita, juga tubuh, demikian juga dengan harta dan ilmu. Mari kita isi umur yang tersisa ini dengan lebih banyak berbuat kebaikan, yang di antaranya melakukan tiga wasiat Rasulullah saw di atas. Jangan sampai umur terus maju, tapi kebaikan tidak pernah melaju. Jangan sampai kesempatan hidup terus berkurang tapi perbuatan dosa tidak pernah berhenti. Jangan sampai penyesalan itu datang belakangan. Mumpung masih ada kesempatan, mari kita isi dengan kebaikan dan kebaikan juga kebaikan. Semoga. Wallahu ‘alam bis shawab.

Qatamea, 01 Juni 2008.